Lappung – Ratusan kasus DBD terjadi di Kabupaten Pesisir Barat Lampung.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Pesisir Barat merilis data alarm soal kasus DBD.
Baca juga : Musim Kemarau, Kasus ISPA di Lampung Selatan Melonjak
Selama periode Januari hingga Agustus 2023, tercatat sebanyak 134 kasus demam berdarah dengue (DBD) terjadi di wilayah tersebut.
Angka ini memicu keprihatinan seiring dengan peningkatan jumlah kasus yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam rilis data Dinkes Pesisir Barat, yang dilihat pada Kamis, 21 September 2023, kasus DBD terbagi secara rinci dalam beberapa bulan.
Pada Januari, terdapat 24 kasus, diikuti oleh Februari dengan 7 kasus, Maret dengan 13 kasus, April 7 kasus, Mei 18 kasus, Juni 20 kasus, Juli 29 kasus, dan pada Agustus ini, telah terlaporkan 19 kasus baru.
Baca juga : Cegah Tuberkolosis, Sampel Sputum 30 Warga Binaan Rutan Kotabumi Diuji
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pesisir Barat, Lisma Yunita, menjelaskan langsung soal ini.
Lisma mengungkapkan kekhawatiran atas peningkatan signifikan jumlah kasus DBD dalam beberapa bulan terakhir.
“Peningkatan ini mengingatkan kita semua akan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan agar bebas dari sarang nyamuk aedes aegypti,” ujarnya.
DBD, kata Lisma, adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti atau nyamuk dengue dan dapat menjadi masalah kesehatan serius jika tidak ditangani dengan cepat.
Gejala DBD termasuk demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri sendi, dan pendarahan.
“Oleh karena itu, Dinkes Pesisir Barat mengingatkan masyarakat untuk segera mencari perawatan medis jika mengalami gejala-gejala tersebut,” jelasnya.
Selain upaya yang telah disebutkan sebelumnya, meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap demam berdarah dengue (DBD) dapat dilakukan melalui 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur.
Baca juga : Viral Lagi, Korban Lakalantas di Lampung Timur Ditolak Ambulans
“3 langkah ini menjadi kunci dalam memutus rantai penularan penyakit DBD oleh nyamuk dengue,” kata Lisma.
Ratusan Kasus DBD terjadi di Pesisir Barat
Selain 3M, masyarakat juga harus selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
PHBS mencakup praktik-praktik sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun secara teratur, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan menghindari peletakan makanan yang terbuka di luar ruangan.
“Praktik PHBS ini dapat membantu mengurangi risiko penularan berbagai penyakit, termasuk DBD,” ujarnya.
Kesadaran masyarakat dalam menerapkan 3M dan PHBS sangat penting dalam upaya pencegahan DBD.
“Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga kesehatan, dan masyarakat, kita dapat mengurangi jumlah kasus DBD dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua,” harap Lisma.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya tindakan pencegahan adalah kunci keberhasilan dalam mengatasi DBD.
Dinkes Pesisir Barat juga akan terus memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi yang diperlukan kepada masyarakat.
“Kalau ada laporan yang masuk dari penanggung jawab program yang ada di setiap puskesmas tim akan melaporkan kasus tersebut ke dalam grup yang tergabung dalam P2PM Dinas Kesehatan,” tandasnya.
Baca juga : IDI Lampung Bakal Gelar Aksi Simpatik, Buntut Penganiayaan Dokter di Puskesmas Fajar Bulan
