Lappung – Puisi Senja Kopi di Pelukan Malang, karya Mahendra Utama.
Puisi ini menggambarkan perjalanan fisik dan emosional seorang pengembara yang menempuh jarak jauh melintasi berbagai kota di Indonesia, dari Bakauheni, Depok, Solo, Surabaya, hingga akhirnya singgah di Malang.
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
Malang hadir sebagai tempat rehat yang hangat, simbol dari kedamaian setelah perjalanan panjang.
Kedai Kopi Hwie menjadi latar puitis yang merangkum kelelahan, kerinduan, dan makna kebersamaan dalam satu cangkir kopi.
Sang penyair menghadirkan suasana intim dan reflektif di mana aroma kopi, foto lawas di dinding, dan makanan sederhana seperti tempe mendoan menjadi jembatan antara masa lalu dan kehangatan hari ini.
Lebih jauh, puisi ini mengandung narasi filosofis tentang waktu, kenangan, dan arti “pulang”.
Baca juga : Syair Edamame dan Okra di Bumi Jember, Karya: Mahendra Utama
Dalam hiruk-pikuk kehidupan dan padatnya aktivitas bisnis, penyair menemukan momen sakral dalam secangkir kopi dan suasana senja.
Malang dan Kedai Hwie digambarkan bukan sekadar tempat singgah, melainkan pelabuhan batin yang menampung letih dan cerita hidup.
Dalam larik terakhir, ada ajakan simbolik untuk “pulang sejenak” dari hiruk-pikuk hidup, bahwa dalam perjalanan yang panjang, manusia butuh titik hening untuk kembali menemukan diri.
Baca juga : Selat Sunda: Perahu Kertas Negeri, Karya: Mahendra Utama
Senja Kopi di Pelukan Malang
Karya: Mahendra Utama
Dari pelabuhan Bakauheni Lampung, Depok yang sibuk,
Solo merdu, Surabaya berkelip rindu,
Bangkalan singgah—lalu Malang berseru:
“Rebahkan lelah… di sini, di meja kayu.”
Kedai Hwie berdiri, saksi zaman bergulir,
Aroma sangrai Jember berpadu debu emas.
Secangkir Tubruk hitam—gula aren mengalun,
Melebur penat ribuan kilometer…
“Lihat, Sayang! Foto-foto lawas di dinding itu,
Seperti keteguhan mitra tani kami di lereng Ijen…”
Bisikku pada keluarga; senja menyepuh jendela,
Rintik cahaya menari di atas tempe mendoan.
Pukul lima sore, tanggal dua puluh delapan,
Langit Malang merah layu. Kita berkumpul:
Cerita bisnis, sawah, jalan berdebu—
Segalanya larut dalam kopi pekat…
Surabaya menanti di ujung perjalanan,
Tapi Hwie menggenggam sebait kekal:
Di sini, waktu tertegun dalam tegukan,
Kenangan mengendap—seperti bubuk kopi di dasar cangkir.
Kedai Hwie: pelabuhan sementara bagi pengembara jalan tol Trans Jawa,
Di tengah rute Solo–Surabaya, ia berbisik:
“Pulanglah sebentar.”
Kedai Kopi Hwie, Malang, Jawa Timur – 28 Juni 2025
Mahendra Utama
Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis Medan
Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh Jember
Baca juga : Hanya Lelah Tiada Bertepi, Karya Mahendra Utama





Lappung Media Network