Menurut Supriyono, banyak petani kopi yang belum mengetahui sistem penanaman ini.
Dan walaupun sudah mengetahui, tidak mau mengubah cara menanamnya.
“Sekarang sudah banyak petani kopi muda, namun saat mereka ingin mengubah cara tanam, mereka terkendala oleh orang tua mereka.
“Masih banyak petani usia tua yang masih belum menerima sistem yang mereka anggap baru ini.
“Dan kalaupun mereka menerima, ada kesulitan lain yang mereka hadapi.
“Untuk melakukan peremajaan tanaman, ini berarti mereka akan kehilangan penghasilan dari panen kopi selama proses peremajaan hingga panen,” jelasnya.
Tapi bukan berarti masalah ini tidak ada solusi. Supriyono pun mencontohkan dirinya yang memulai peremajaan dari lahan seluas seperempat hektar dulu.
Ia berani mengganti tanaman lama di lahan seluas sekitar 2.500 meter persegi itu dengan tanaman baru dan dengan menggunakan sistem pagar.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada sekitar 50 hektar kebun kopi di Lampung Barat dan Tanggamus yang sudah melakukan peremajaan dan menggunakan sistem pagar.
“Jumlah ini masih sangat sedikit dibandingkan dengan total keseluruhan kebun kopi yang ada di dua kabupaten ini. Tapi ini sudah lebih baik daripada tidak sama sekali,” kata dia.
Supriyono Sang Penemu Sistem Pagar di Lampung
Keberhasilan Supriyono dalam menerapkan sistem pagar telah menginspirasi petani kopi lainnya di Lampung.
Baca juga : Rokok Kretek Filter Penyumbang Terbesar Kemiskinan
Saat ini, sudah banyak petani kopi di Lampung yang mulai menerapkan sistem pagar.
Supriyono berharap, penerapan sistem pagar dapat meningkatkan produktivitas kopi Lampung dan kesejahteraan petani kopi Lampung.
Harapan Supriyono berlanjut, saat Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Yuliastuti melirik hasil kerjanya.
Pemprov Lampung, dibantu oleh Supriyono, juga mulai mengembangkan penanaman pohon kopi dengan sistem pagar di UPTD Balai Benih Kebun Induk (BBKI) Hanakau di Liwa.
“Ini adalah penerapan dari program pembangunan perkebunan Provinsi Lampung yang diusung Gubernur Lampung, pak Arinal Djunaidi.
“Pemprov berupaya untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan nilai tambah petani. Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan kesejahteraan petani.” Kata Yuliastuti, Kamis, 12 Oktober 2023 lalu.
“Selain di Sekincau, kami juga telah menanam di demplot kopi BBKI Hanakau Lampung Barat. Model sistem penanaman kopi berupa sistem pagar.
“Di mana dalam satu hektar jumlah populasi tanaman sebanyak 4.000 batang. Dengan target produksi 4 ton per tahun,” jelasnya.
Yuliastuti menambahkan, Dinas Perkebunan Provinsi Lampung juga telah membangun kebun entres kopi.
Yang selanjutnya bisa digunakan sebagai bahan sambung untuk peremajaan tanaman.
Baca juga : Peringkat 1 Dunia Pengunggah Video Penyiksaan Hewan. Netizen Ragukan Laporan SMACC
