Lappung – Puisi Syukur di Pintu Oktober karya Mahendra Utama adalah sebuah ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas segala nikmat yang diterima.
Penulis secara spesifik menyebutkan anugerah berupa kesehatan, keluarga, dan rezeki yang berlimpah sebagai inti dari rasa syukurnya.
Baca juga : Puisi untuk Dony Oskaria
Rasa syukur ini digambarkan selembut dan setulus embun pagi yang setia membasahi bumi, menyiratkan bahwa nikmat tersebut dirasakan sebagai sesuatu yang terus-menerus hadir dan menyegarkan jiwa.
Selain itu, penulis juga bersyukur atas karunia kreativitas dan produktivitas dalam berkarya, yang dilambangkan dengan pena tak pernah kering selama periode Agustus hingga September.
Setiap tulisan yang dihasilkan dipandang sebagai cerminan dari anugerah Tuhan yang tiada henti.
Pada bagian selanjutnya, puisi ini mengangkat nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal sebagai landasan kekuatan.
Keluarga diibaratkan sebagai pelabuhan yang teduh, sebuah tempat untuk kembali, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Penulis menyematkan dua pepatah penting, Alam takambang jadi guru dari Minangkabau yang berarti alam semesta adalah guru terbaik, dan falsafah hidup masyarakat Lampung Bejuluk Be Adek, Pesenggiri Sai Mupok yang menekankan pentingnya persaudaraan, harga diri, dan kebersamaan.
Baca juga : Sebatang Asa untuk Tuan Tembakau, Karya: Mahendra Utama
Puisi ini ditutup dengan sebuah resolusi atau janji. Rasa syukur yang melimpah tidak hanya menjadi renungan, tetapi juga menjadi bahan bakar untuk melangkah ke bulan Oktober dengan semangat yang lebih menyala, mendedikasikan setiap langkah hidup untuk Tuhan dan sesama.
Syukur di Pintu Oktober
Karya: Mahendra Utama
Kautumbuhkan syukur di jiwa yang lapang
Kesehatan, keluarga, rezeki yang melimpah ruah
Di ambang Oktober 2025, kunikmati indahnya anugerah-Mu
Laksana embun pagi yang setia membasahi bumi
Sejak Agustus membara, hingga September yang redup
Pena tak pernah kering, kata-kata menjelma tarian
Setiap puisi yang lahir, setiap esai yang tegak berdiri
Adalah cermin dari nikmat-Mu yang tak pernah usai
“Alam takambang jadi guru”– di sanalah kami belajar
Bahwa tak ada satu pun karunia yang sia-sia
Keluarga yang sehat, laksana pelabuhan yang teduh
Tempat kita berlabuh, bercerita, dan menguatkan satu sama lain
“Bejuluk Be Adek, Pesenggiri Sai Mupok”– sebuah pesan dari Bumi Lampung
Harga diri dan kebersamaan, pondasi yang tak tergantikan
Maka di Oktober ini, dengan semangat yang lebih menyala
Kusedekahkan setiap langkah, untuk-Mu dan untuk semua
Terimakasih, Ya Allah, untuk semuanya.
Segalamider, 2 Oktober 2025
Baca juga : Untuk Gus Imin di Hari Lahirmu
