Lappung – Puisi ini merupakan sebuah penghormatan mendalam dan doa yang ditujukan kepada Faisol Riza yang merayakan ulang tahun ke-53.
Penulis, Mahendra Utama, menggambarkan sosok Faisol Riza sebagai figur yang gigih dan pekerja keras, khususnya dalam konteks pembangunan atau industri bangsa (“nadi industri bangsa”).
Baca juga : 1 Tahun Prabowo-Gibran: Faisol Riza, Aktor Kunci Di Balik Akselerasi Industri Nasional
Penggunaan frasa Madura “Abental ombe’ asapo’ angen” (berbantal ombak, berselimut angin) sangat kuat, menyiratkan mentalitas pejuang yang tangguh, siap menghadapi badai, dan tidak pernah lari dari kesulitan dalam menjalankan tugas pengabdiannya.
Selain apresiasi atas kinerja, puisi ini sarat dengan dimensi spiritual dan religius.
Penulis tidak hanya mendoakan kesehatan fisik, tetapi juga kejernihan hati dan keberkahan usia.
Metafora “besi yang ditempa menjadi baja” menggambarkan kematangan diri yang terbentuk melalui ujian waktu.
Puncaknya, puisi ini mengingatkan bahwa warisan terbesar bukanlah pencapaian fisik semata (pabrik dan mesin), melainkan “hati yang bersih” sebagai persembahan akhir kepada Tuhan.
Ini adalah pesan persahabatan yang tulus, menyeimbangkan antara kesuksesan duniawi dan keselamatan ukhrawi.
Baca juga : Dari Aktivis Jalanan ke Pemerintahan, Alumni SMID-PRD Bersatu di Silatnas
UNTUK FAISOL RIZA DI HARI KELAHIRANNYA
Wahai angin, sampaikan salamku pada mentari yang baru berusia lima puluh tiga musim,
Pada wajah yang tak lelah berjuang dalam bentang samudera tugas.
Segala puji bagi-Mu, Ya Rabb, atas napas yang Kau titipkan padanya,
Atas mata yang masih memandang harap, tangan yang masih menyulam karya.
Di setiap denyut nadi industri bangsa, ada doanya yang mengalir tenang,
Seperti akar yang menghunjam bumi, mencari sumber air keadilan.
“Abental ombe’ asapo’ angen,” katanya dalam diam,
Berselimut badai, berbantalkan gelombang, jiwa tak pernah lelah terdampar.
Bukankah kapal terbaik bukan yang berdiam di pelabuhan yang teduh?
Melainkan yang terkoyak layar, namun tetap mengarah pada mata angin-Nya.
Lima puluh tiga tahun adalah serpihan cahaya dari matahari-Mu,
Semakin tinggi, semakin dekat pada puncak pemberian yang tak berhingga.
Seperti besi yang ditempa menjadi baja, menjadi tiang yang menopang negeri,
Semoga setiap tahun yang lahir membawanya lebih dekat pada rahasia-Mu.
Kesehatan adalah pelita di tangannya, kekuatan adalah sajak di bibirnya,
Keberkahan adalah embun yang Kau taburkan di setiap fajar perjuangannya.
Bukan usia yang kita hitung, tapi setiap helaan yang menjadi doa,
Setiap keringat yang menjadi sungai, mengaliri sawah-sawah impian bangsa.
Barakallahu fi umrik, wahai sahabat dalam pengabdian,
Semoga di setiap kelahiran kembali ini, Engkau karuniakan cinta yang lebih luas dari samudera tugasnya.
Dan di akhir perjalanan, kelak kau persembahkan bukan hanya pabrik dan mesin,
Tapi hati yang bersih, laksana kaca yang memantulkan cahaya-Nya semata.
Salam takzim dari sebuah jiwa yang juga merindu pada cahaya,
Mahendra Utama
(Dalam doa yang tak terucap)
Tanjungkarang Barat, 31 Desember 2025
Baca juga : Lagi, Faisol Riza Lolos Senayan. Mahendra Utama: Tak Heran





Lappung Media Network