Lappung – Stabilitas harga 9 bahan pokok (sembako) di Provinsi Lampung mendapatkan sorotan positif dari kalangan pengamat.
Langkah strategis Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dinilai berhasil meredam gejolak harga pasar yang kerap membebani masyarakat.
Baca juga : Strategi Pengendalian Inflasi: Menjaga Stabilitas Harga Cabai di Lampung 2025
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai kebijakan Gubernur yang responsif terhadap isu pangan menjadi kunci ketenangan masyarakat saat ini.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak membiarkan harga kebutuhan pokok bergerak liar layaknya roller coaster.
“Urusan perut dan harga pangan ini sangat sensitif dan menyentuh langsung kehidupan rakyat kecil.
“Di Lampung, kita melihat Gubernur Rahmat Mirzani Djausal tidak membiarkan kondisi ini berjalan tanpa kendali.
“Ada intervensi nyata agar dompet rakyat tidak ‘menjerit’,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Jumat, 2 Januari 2026.
Mahendra menyoroti pendekatan Gubernur yang menggandeng akademisi Universitas Lampung (Unila) dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk membedah masalah rantai pasok, khususnya pada komoditas rentan inflasi seperti cabai merah.
Sebagai catatan, cabai merah kerap menjadi penyumbang inflasi signifikan, bahkan tercatat menyumbang andil 0,1343 persen pada inflasi kelompok makanan di akhir 2021.
Masalah utamanya klasik, produksi musiman, cuaca, dan rantai distribusi yang terlalu panjang.
“Gubernur Mirza tidak asal comot kebijakan. Beliau sadar disparitas harga terjadi karena produksi tidak merata.
“Misalnya, Lampung Selatan dan Lampung Barat produktivitasnya tinggi, tapi daerah lain kurang. Ini yang dibenahi lewat kajian mendalam,” jelas Mahendra.
Baca juga : Orkestrasi Gubernur Lampung Jaga Stabilisasi Harga Cabai
Keberhasilan visi Gubernur ini, menurut Mahendra, tidak lepas dari eksekusi lapangan yang solid oleh Kepala Disperindag Lampung, Zimmi Skil.
Mahendra menyebut Zimmi berhasil membangun koordinasi kuat antara provinsi dan kabupaten/kota.
“Zimmi Skil menjadi kunci dalam menerjemahkan visi Gubernur. Fokusnya jelas, memotong rantai distribusi yang berbelit-belit.
“Tujuannya supaya harga di tingkat petani tetap menguntungkan, tapi sampai di konsumen tidak melonjak tinggi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mahendra mengapresiasi model kerja sama lintas sektor yang diterapkan Pemprov Lampung.
Keterlibatan BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food untuk menjaga pasokan di lebih dari 200 pasar dinilai sebagai langkah cerdas menutup celah spekulasi harga.
“Kalau stok aman dan terpantau di ratusan pasar, spekulan tidak bisa main harga. Hasilnya, masyarakat tenang dan tidak perlu dagdigdug setiap mau belanja,” tambah Mahendra.
Mahendra berharap pola kepemimpinan yang berbasis riset matang dan eksekusi cepat ini terus dipertahankan.
“Stabilitas harga ini bukti ekonomi Lampung makin kuat. Urusan dapur aman, rakyat pun tidak pusing,” pungkasnya.
Baca juga : Kilau Emas dan Pedasnya Cabai Merah Picu Inflasi Lampung November 2025





Lappung Media Network