Lappung – Tewasnya Kepala Desa Braja Asri, Darusman, dalam upaya menghalau gajah liar, Rabu, 31 Desember 2025, memantik desakan keras terhadap pemerintah pusat.
Kementerian Kehutanan diminta tidak sekadar reaktif, namun segera merealisasikan infrastruktur pengamanan permanen di zona penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Baca juga : Seekor Gajah Jinak di Way Kambas Lampung Dilaporkan Mati
Pimpinan Majelis Dikdasmen PDM Muhammadiyah Lampung Timur, Ahmad Latiful Mufti, menyebut insiden ini sebagai bukti lemahnya mitigasi konflik satwa di wilayah tersebut.
Ia menuntut Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, untuk bertanggung jawab penuh dan segera mengambil langkah taktis.
“Menteri Raja Juli harus melihat ini sebagai prioritas darurat. Jangan menunggu sampai ada nyawa lain yang melayang. Tindakan cepat dan tepat adalah harga mati,” tegas Latiful, Jumat, 2 Januari 2026.
Menurut Latiful, pola pengusiran manual seperti yang dilakukan almarhum Darusman memiliki risiko fatal yang terlalu tinggi.
Oleh karena itu, ia menyodorkan 3 skema mitigasi teknis yang wajib segera dieksekusi pemerintah:
- Barikade Fisik Permanen: Pemerintah didesak membangun tanggul pembatas (kanal) yang tinggi dan panjang secara permanen. Infrastruktur ini berfungsi sebagai tembok pemisah absolut antara habitat liar TNWK dengan area perkebunan produktif milik warga.
- Sistem Deteksi Dini: Pemasangan lampu penerangan berbasis panel surya di sepanjang jalur perlintasan gajah. Fasilitas ini krusial untuk memantau pergerakan satwa saat malam hari, sehingga warga memiliki waktu evakuasi sebelum gajah masuk ke pemukiman.
- Legalisasi Pengamanan Warga: Pembentukan dan pengaktifan kembali PAM Swakarsa yang merekrut petani desa penyangga. Satuan ini harus dilegalkan dan dilatih khusus sebagai tim penghalau gajah, bukan sekadar relawan tanpa perlindungan.
Baca juga : Diseruduk Gajah Saat akan Memancing, Warga Lampung Timur Kritis
Latiful, yang juga warga setempat, menilai sosok Darusman adalah simbol perlawanan warga terhadap ketidakpastian keamanan di tepian hutan.
Almarhum dikenal gigih menyuarakan aspirasi ke berbagai tingkat pemerintahan, dari Pemda hingga Kementerian di Jakarta, namun ironisnya justru menjadi korban dari masalah yang ia perjuangkan.
“Pak Darusman sudah berjuang maksimal. Cukup beliau yang menjadi martir dalam konflik ini. Pemerintah harus menjadikan kejadian ini sebagai titik balik perbaikan sistem,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Darusman tewas mengenaskan setelah diamuk gajah liar saat memimpin warganya melakukan penggiringan satwa di perbatasan desa.
Meski melibatkan tim gabungan TNI-Polri dan Balai TNWK, agresivitas gajah yang terdesak membuat situasi tak terkendali, mengakibatkan sang Kades mengalami luka fatal yang merenggut nyawanya.
Baca juga : Unik, Jersey Festival Way Kambas Padukan Ikon Gajah dan Situs Purba





Lappung Media Network