Lappung – Bendungan Way Semah di Pesawaran, tumbang setelah 103 tahun beroperasi.
Sebuah bangunan bersejarah yang telah berdiri selama lebih dari seabad akhirnya mengalami nasib tragis.
Baca juga : Bendungan Margatiga Ditargetkan Impounding Desember 2023
Bendungan Way Semah, yang menjadi bendungan pertama di Provinsi Lampung, berhenti beroperasi setelah 103 tahun menyumbang kontribusi ke masyarakat hingga produksi para petani.
Bangunan bersejarah ini berdiri sebagai saksi bisu era kolonisasi di Karesidenan Lampung pada masa pemerintahan Schalwijk pada tahun 1916-1917.
Bangunan ini selama bertahun-tahun menjadi penjaga terdepan wilayah sekitar Desa Sukadadi, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran.
Meskipun terkenal sebagai monumen bersejarah yang kokoh, Bendungan Way Semah menghadapi nasib tragis yang berakhir pada tahun 2020.
Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba merusak bangunan pelindung tersebut hingga roboh.
Bahkan, sebagian pondasi bangunan yang telah bertahan selama lebih dari satu abad harus hanyut terbawa oleh aliran banjir yang ganas.
Akibat kerusakan yang sangat parah ini, Bendungan Way Semah tidak lagi dapat beroperasi.
Baca juga : Seorang Pelajar Dilaporkan Tenggelam di Bendungan Way Semah
Meskipun Bendungan Way Semah telah berhenti beroperasi, kenangannya akan tetap hidup dalam sejarah Lampung.
Robohnya bendungan ini mengingatkan kita akan kuasa alam dan kerapuhan bangunan manusia meski berusia lebih dari seabad.
Sejarah Way Semah (1916-1917)
Dilansir dari Berandadesa, Bendungan atau Bendung Way Semah adalah salah satu bendung yang dibangun pada era kolonisasi.
Bendung ini terbangun di era Karesidenan Lampung yang kala itu dipimpin oleh Schalwijk antara tahun 1916-1917.
Pelaksanaan kolonisasi sejak tahun 1905 di Gedongtataan, ketika itu belum dilaksanakan berbarengan dengan implementasi kebijakan pembangunan irigasi.
Kebijakan irigasi di Karesidenan Lampung oleh pemerintah kolonial baru dilaksanakan mulai tahun 1916.





Lappung Media Network