Lappung – Puisi Sang Pengayom dari Timur karya Mahendra Utama.
Puisi Sang Pengayom dari Timur merupakan karya persembahan dari Mahendra Utama untuk Ir. H. M. Nasim Khan dalam rangka ulang tahunnya yang ke-50.
Baca juga : Seratus Hari Cahaya Nusantara
Puisi ini mengangkat sosok Nasim Khan sebagai figur pemimpin yang kuat, rendah hati, dan berdedikasi tinggi terhadap rakyat dan tanah kelahirannya di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, khususnya Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Dalam bait-bait awal, penyair menyoroti bagaimana perjuangan dan semangat beliau diibaratkan seperti alam yang mengelilinginya: samudra yang bergelora, lereng gunung yang penuh daya, hingga tanaman kopi dan jeruk yang menjadi lambang kerja nyata dan keberkahan daerah.
Baca juga : Layu di Negeri Edamame
Lebih jauh, puisi ini menampilkan Nasim Khan sebagai tokoh santri yang menjunjung nilai-nilai Nahdlatul Ulama dan Pancasila, serta aktif membela kepentingan rakyat kecil melalui jalur politik di PKB dan tugas legislatifnya di Komisi VI DPR RI.
Ia digambarkan bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai pelayan masyarakat yang mendengarkan jeritan nelayan, petani, dan pedagang kecil.
Puisi ini ditutup dengan ungkapan syukur, doa, dan harapan agar beliau senantiasa diberi umur panjang dan kekuatan untuk terus menjadi pengayom bagi daerah dan bangsa.
Baca juga : Syair Edamame dan Okra di Bumi Jember, Karya: Mahendra Utama
Melalui puisi ini, terlihat jelas bahwa Nasim Khan bukan hanya dihargai karena posisinya, tetapi karena ketulusan dan keberpihakannya pada rakyat.
Sang Pengayom dari Timur
(Sebuah Persembahan Ulang Tahun ke-50 untuk Ir. H. M. Nasim Khan dari Mahendra Utama)
Berdiri di tepi samudra Banyuwangi, kau teguh,
Ombak menderu syair perjuangan panjangmu.
Dari lereng Ijen yang menyemburkan semangat,
Hingga kopi Bondowoso, harum kerja nyatamu.
Situbondo, tanah kelahiranmu bersaksi,
Jeruk emasnya maniskan perjuangan sejati.
Laku santri, tawadhu’, mengalir dalam darah,
Berselimut Nahdlatul Ulama, berkhidmah tanpa lelah.
Di gelanggang PKB, kau bawa suara rakyat,
Mengakar kuat, membelah jalan yang terjal.
Lima puluh musim telah kau tapaki dengan tabah,
Menjadi tiang Pancasila, berbakti tanpa salah.
Di ruang sidang Komisi VI, suaramu menggelegar,
Membela nelayan, petani, pedagang kecil nan jujur.
Dari rawa Baluran hingga perkebunan Situbondo,
Kaki-kakimu menapak, mendengar setiap rintih rindu.
Advokasi jadi senjata, kebijakan jadi perisai,
Mengalirkan keadilan bagai sungai yang tak kunjung kering.
Malam ini, bulan purnama menyinari tapal batas,
Limapuluh tahun cahaya memayungi langkahmu yang tegas.
Terima kasih, Kang Mas, atas pengabdian tanpa jeda,
Bagi Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo yang tercinta.
Semoga Allah limpahkan rahmat, umur panjang yang berkah,
Dan kekuatan untuk terus mengayom, membela tanah air.
Selamat Ulang Tahun, Saudaraku, Sang Pengayom dari Timur!
Salam hangat dari saudara semuslim,
Mahendra Utama
Bandarlampung, 10 Juni 2025
Baca juga : Selat Sunda: Perahu Kertas Negeri, Karya: Mahendra Utama





Lappung Media Network