Lappung – Puisi Affan Lurus Jalan Terang Laku karya Mahendra Utama merupakan sebuah penghormatan mendalam kepada sosok bernama Affan.
Dalam puisinya, Mahendra menggambarkan Affan sebagai pribadi yang tenang, jujur, dan berpegang teguh pada nilai-nilai kejujuran serta amanah.
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
Affan tidak mencari panggung atau banyak bicara, tetapi sikap dan tindakannya mencerminkan ketulusan dan kebijaksanaan.
Ia digambarkan bukan sebagai pahlawan karena keberanian fisik, tetapi karena keluhuran niat dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur, sebagaimana ajaran leluhur Betawi yang menjunjung tinggi rasa malu, adab, dan keikhlasan.
Puisi ini juga menelusuri jejak pendidikan dan karier Affan, dari Unsoed hingga FISIP UI, hingga akhirnya menjabat sebagai komisaris di Pelindo Kendaraan.
Namun penulis menekankan bahwa jabatan tak mengubah jati diri Affan yang tetap membumi dan berpihak pada rakyat.
Dalam kehidupan yang sering dipenuhi kepura-puraan, Affan digambarkan tetap teguh menjaga keaslian dan kehormatan diri, sejalan dengan teladan Nabi tentang kepemimpinan yang jujur dan amanah.
Puisi ini ditutup dengan pengakuan penuh hormat dari penulis, yang bangga bukan karena status Affan, melainkan karena nilai dan akhlak yang ia pegang erat sebagai bekal hidup dan ladang amal.
Baca juga : Saudara dari Solo, Sahabat dari Lampung
Affan, Lurus Jalan, Terang Laku
Karya: Mahendra Utama
Dalam palung hidup yang riuh dan gaduh,
Ada engkau, Affan, yang tetap teduh.
Tak berlaga, tak berbusa kata,
Namun dalam gerakmu, makna terasa nyata.
Kau ibarat Pitung, bukan karena silat atau celurit,
Tapi karena hatimu jujur dan niatmu lurus, tak pernah sulit.
“Ucap dijaga, amanah dijunjung”,
Begitulah ajaran leluhur Betawi
Yang kaubawa dalam hati yang agung.
Lahir dari tanah yang tahu malu adalah kemuliaan,
Bertumbuh dalam nilai, bukan sekadar jabatan.
Di pundakmu, falsafah Islam bersinar terang:
“Amal saleh dan ikhlas adalah sebenar-benarnya pangkat yang tak pernah lekang.”
Dari Unsoed hingga FISIP UI,
Langkahmu bukan sekadar meniti, tapi memaknai.
Kini engkau duduk sebagai Komisaris Pelindo Kendaraan,
Tapi jiwamu tetap rakyat, tak pernah merasa berbeda tatanan.
Dalam dunia yang sering berpura-pura,
Kau tetap jadi diri sendiri, penuh wibawa dan doa.
Menjaga adab, menjunjung marwah,
Seperti sabda Nabi:
“Pemimpin terbaik adalah yang paling jujur dan amanah.”
Wahai Affan, adik seperjuangan dan cahaya jalan,
Engkau bukan hanya pejabat dalam pelabuhan.
Tapi penjaga nilai, pewaris akhlak,
Yang tak gentar berdiri di tengah gelombang yang berderak.
Kami bangga padamu,
Bukan karena pangkat atau siapa yang kau tahu.
Tapi karena engkau tahu,
Bahwa hidup adalah ladang amal,
Bukan sekadar pameran baju.
Mahendra Utama adalah Komisaris Utama PT DMKB, peminat puisi.
Baca juga : Sahabat Sejati: Andre Abdullah





Lappung Media Network