Lappung – Langkah diplomasi internasional yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto dinilai membawa perubahan signifikan bagi posisi Indonesia di kancah global.
Baca juga : Pertanian Jawara Ekonomi di Era Prabowo
Analis menilai, Indonesia kini tidak lagi hanya reaktif, melainkan telah bergeser menjadi kekuatan menengah yang proaktif dalam membentuk geopolitik dan ekonomi dunia.
Pemerhati sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama, menyatakan bahwa kepemimpinan Prabowo menandai babak baru di mana Indonesia secara aktif merajut kemitraan yang setara dan memperjuangkan kepentingan nasional dengan lebih percaya diri.
“Langkah-langkah strategis Prabowo menggeser posisi Indonesia dari negara yang reaktif menjadi kekuatan menengah yang proaktif membentuk ulang peta geopolitik dan ekonomi global,” ujar Mahendra Utama dalam analisisnya, Rabu, 15 Oktober 2025.
Menurut Mahendra, pergeseran paling nyata terlihat dari keberhasilan diplomasi ekonomi yang membuahkan hasil konkret.
Salah satu pencapaian utamanya adalah penurunan tarif impor untuk produk Indonesia oleh Amerika Serikat.
“Dalam negosiasi langsung dengan Presiden AS Donald Trump, Prabowo berhasil menekan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen, angka terendah di kawasan Asia,” jelasnya.
Selain itu, kesepakatan strategis seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa yang sempat mandek selama satu dekade, akhirnya berhasil ditandatangani.
Kesepakatan ini membuka akses pasar 27 negara Eropa bagi produk-produk unggulan Indonesia.
Di sisi investasi, komitmen dari Arab Saudi senilai USD 27 miliar (sekitar Rp432 triliun) dan diterimanya Indonesia sebagai anggota penuh BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) disebut semakin memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Baca juga : Dony Oskaria, Pilihan Jitu Prabowo untuk BUMN Unggul
Di panggung geopolitik, lanjut Mahendra, Prabowo secara vokal menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang atau Global South.
Prabowo juga mengkritik standar ganda yang kerap ditunjukkan oleh negara-negara adidaya.
“Langkah strategis bergabung dengan BRICS bukan sekadar simbolis.
“Ini adalah upaya menyeimbangkan posisi Indonesia yang selama ini kerap bergantung pada mitra tradisional Barat,” ungkap Mahendra.
Pendekatan maju semua arah juga diimplementasikan melalui penguatan hubungan dengan kekuatan menengah lain seperti Brasil, khususnya untuk kerja sama di sektor pangan dan energi berkelanjutan.
Di sektor pertahanan, Mahendra menyoroti modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), seperti pembelian pesawat tempur Rafale dari Prancis.
Menurutnya, langkah ini diambil dengan pendekatan cooperative security untuk melindungi kedaulatan, terutama di Laut Natuna Utara, tanpa memicu eskalasi konflik.
“Yang menarik, ia berhasil menjaga keseimbangan rumit antara menegakkan kedaulatan dan mempertahankan hubungan baik dengan China, mitra dagang terbesar Indonesia,” tambahnya.
Mahendra menyimpulkan, diplomasi yang dijalankan Prabowo membawa dampak transformatif.
“Indonesia tidak lagi sekadar hadir di kancah internasional, tetapi aktif membentuk agenda, merajut kemitraan yang setara, dan memperjuangkan kepentingan nasional dengan percaya diri,” pungkasnya.
Baca juga : Indonesia 2025: Pertumbuhan dan Pemerataan di Bawah Prabowo





Lappung Media Network