Lappung – Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tahun 2025 memperlihatkan ketimpangan yang cukup mencolok dalam peta ekonomi daerah.
Dari total PDRB sebesar Rp483 triliun, tercatat sekitar 64 persen atau setara Rp309 triliun disumbang hanya oleh 4 wilayah, yakni Bandarlampung, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Lampung Timur.
Baca juga : Proyeksi Ekonomi Lampung 2026: Pertumbuhan 5,7 Persen dengan Sektor Pertanian Tetap Dominan
Sementara itu, 11 kabupaten/kota lainnya harus berbagi porsi pada angka 36 persen sisanya.
Menanggapi data tersebut, Pemerhati Pembangunan Lampung, Mahendra Utama, menilai statistik ini menjadi catatan krusial di awal masa kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang dilantik Februari 2025 lalu.
Menurutnya, dominasi 4 daerah tersebut adalah fenomena wajar namun perlu strategi khusus agar kue pembangunan lebih merata.
“Ini potret riil ekonomi kita. 4 daerah ini memang punya infrastruktur matang.
“Bandarlampung sebagai pusat jasa, Lampung Selatan memegang kunci logistik Bakauheni, sedangkan Lamteng dan Lamtim adalah lumbung pangan dan basis industri,” ujar Mahendra Utama di Bandarlampung, Minggu, 4 Januari 2025.
Mahendra menyebut, investor secara alami akan memilih lokasi dengan akses logistik termudah dan ketersediaan tenaga kerja yang memadai.
Hal ini membuat koridor tengah-selatan Lampung menjadi magnet investasi utama.
Peluang Hilirisasi
Meski pertumbuhan di 4 daerah tersebut positif, Mahendra menekankan pentingnya peran Pemerintah Provinsi untuk melakukan intervensi kebijakan agar pertumbuhan ekonomi lebih inklusif.
Salah satu kunci utamanya adalah hilirisasi produk pertanian, khususnya di Lampung Tengah dan Lampung Timur.
“Jangan lagi kita jual singkong atau nanas dalam bentuk mentah keluar daerah. Nilai tambahnya hilang,” tegas Mahendra.
Baca juga : Potensi Ekonomi Lampung yang Menunggu Sentuhan
Ia mendorong Gubernur Mirza dan jajarannya untuk mempermudah perizinan dan menjamin pasokan energi bagi industri pengolahan lokal.
Jika komoditas tersebut diolah menjadi produk turunan seperti tepung mocaf di dalam daerah, efek dominonya akan langsung dirasakan petani dan menyerap tenaga kerja lokal.
Konektivitas untuk 11 Daerah
Lantas bagaimana dengan 11 kabupaten lainnya? Mahendra menyarankan strategi konektivitas yang agresif.
Wilayah seperti Pesisir Barat yang mengandalkan pariwisata atau Waykanan dengan hasil hutannya, membutuhkan akses jalan penghubung yang mulus menuju jalur logistik utama.
“Produk dari daerah pinggiran harus bisa sampai ke pasar dengan biaya logistik murah. Ini butuh perbaikan jalan penghubung yang masif,” paparnya.
Selain infrastruktur fisik, Mahendra juga mengusulkan adanya insentif khusus seperti keringanan pajak daerah bagi investor yang bersedia membuka usaha di luar koridor utama ekonomi Lampung.
Di akhir keterangannya, Mahendra optimistis bahwa angka 64 persen kontribusi dari 4 daerah tersebut bisa menjadi lokomotif untuk menarik daerah lain, bukan justru meninggalkan yang tertinggal.
“Masyarakat menaruh harapan besar pada tangan dingin Gubernur Mirza. Angka 64 persen itu harus jadi modal untuk mengangkat yang 36 persen.
“Kolaborasi antara provinsi, kabupaten, dan swasta adalah kuncinya agar Lampung tumbuh sejahtera bersama,” pungkasnya.
Baca juga : Kawasan Metropolitan Lampung Raya: Kunci Pemerataan Ekonomi Lewat Koordinasi Regional





Lappung Media Network