Lappung – Perekonomian Provinsi Lampung diproyeksikan melanjutkan tren positif pada tahun 2026 dengan target pertumbuhan di kisaran 5,2 hingga 5,7 persen.
Kendati fundamental ekonomi dinilai kokoh, tantangan pemerataan dan hilirisasi produk pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Baca juga : Potensi Ekonomi Lampung yang Menunggu Sentuhan
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai optimisme pemerintah daerah tersebut cukup realistis jika melihat tren stabilitas ekonomi dalam 5 tahun terakhir.
Namun, ia menekankan agar angka pertumbuhan yang tinggi tidak sekadar menjadi statistik di atas kertas, melainkan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di tingkat tapak.
“Secara data, fondasi kita kuat. Tren pertumbuhan di atas 5 persen hingga triwulan III-2025 adalah modal berharga.
“Namun pertanyaannya, apakah kue pembangunan ini dinikmati merata? Ini yang harus dijaga,” ujar Mahendra Utama, Kamis, 1 Januari 2026.
Pisau Bermata Dua
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Lampung pada 2024 mencatatkan pertumbuhan 5,41 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp522,97 triliun.
Tren ini berlanjut hingga triwulan III-2025 dengan pertumbuhan 5,04 persen secara tahunan (year-on-year).
Mahendra menyoroti struktur ekonomi Lampung yang masih sangat bergantung pada sektor agraris.
Data triwulan III-2025 menunjukkan sektor pertanian menyumbang 28,38 persen terhadap struktur ekonomi, dengan andil pertumbuhan mencapai 38,89 persen.
Komoditas seperti jagung, singkong, kelapa sawit, dan kopi robusta masih menjadi penopang utama.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Lampung 2025: Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan
Menurut Mahendra, dominasi ini merupakan pisau bermata dua.
Di satu sisi menjadi kekuatan penyangga saat sektor lain terguncang, namun di sisi lain menunjukkan lambatnya diversifikasi ekonomi.
“Kita tidak bisa selamanya hanya menjual bahan mentah. Sektor pertanian memang tulang punggung, tapi tanpa industrialisasi berbasis agro, nilai tambahnya minim.
“Industri pengolahan yang baru menyumbang 17,66 persen harus digenjot lagi,” tegas Mahendra.
Ekonomi Desa
Menyikapi proyeksi pemerintah provinsi yang menargetkan PDRB Lampung berpotensi menyentuh angka Rp 580 triliun pada 2026, Mahendra mengingatkan pentingnya penguatan ekonomi desa.
Ia mengapresiasi komitmen Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang fokus memastikan perputaran uang kembali ke desa.
“Tantangan klasik kita adalah ketimpangan kota dan desa. Strategi agar uang dari desa berputar dan kembali ke desa adalah langkah strategis.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti jika tidak inklusif,” paparnya.
Mahendra menambahkan, kunci menghadapi 2026 bukan hanya pada menjaga produktivitas pertanian, melainkan memperbaiki konektivitas antar wilayah dan memperluas akses keuangan di level grassroot.
“Jika industrialisasi berjalan dan konektivitas membaik, target 5,7 persen bukan hal mustahil.
“Yang terpenting, kemakmuran itu harus dirasakan semua lapisan, bukan segelintir pihak saja,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Kawasan Metropolitan Lampung Raya: Kunci Pemerataan Ekonomi Lewat Koordinasi Regional





Lappung Media Network