Lappung – Puisi ini merupakan sebuah elegi (syair duka cita) yang mendalam atas berpulangnya Ibu Hajjah Nur Chayati, ibunda dari tokoh bernama Andre Abdullah.
Penulis menggambarkan suasana duka yang terasa lintas benua, menghubungkan Sydney (tempat sang anak berjuang) dan tanah Jawa (asal muasal).
Baca juga : Selayar Rasa di Empat Perhentian, Karya: Mahendra Utama
Secara emosional, puisi ini melukiskan sosok Ibu bukan sekadar orang tua, melainkan sumbu atau sumber kekuatan spiritual yang membuat sang anak (Andre) mampu bersinar sebagai pelita dan pemimpin di perantauan.
Rasa kehilangan digambarkan begitu hebat hingga langit seolah runtuh, menandakan betapa vitalnya peran nasehat dan doa sang Ibu selama ini.
Selain ekspresi duka pribadi, puisi ini juga mengangkat dimensi perjuangan dan kebanggaan.
Penulis menghibur sahabatnya dengan menegaskan bahwa sang Ibu pergi dengan rasa bangga karena telah membesarkan seorang pejuang.
Ada penekanan kuat pada peran Andre Abdullah sebagai tokoh diaspora di Australia yang aktif dalam pergerakan politik (disebutkan kaitannya dengan DPLN Partai Gerindra dan visi Prabowo).
Pesan akhirnya adalah sebuah janji keteguhan hati: bahwa meski sang Ibu telah tiada, semangat dan nilai-nilai yang ditanamkannya akan terus hidup dalam setiap langkah perjuangan sang anak bagi Indonesia.
Baca juga : Di Bawah Langit Merah Kemakmuran, Karya: Mahendra Utama
UNTUK KEPERGIAN IBU HAJJAH NUR CHAYATI
Karya: Mahendra Utama
Fajar itu tiba dengan bisu, Ibu…
Di langit Sydney kabut berarak pelan
Membawa namamu: Hajjah Nur Chayati
Yang harumnya melebihi misk di serambi Mekah
Dan kini terserak di antara doa-doa yang tertunda.
Kita merindu sebelum benar-benar kehilangan,
Tapi ini, Ibu… ini perpisahan yang sesungguhnya.
Bumi Australia, tempat Andre bersahabat dengan angin jauh,
Menggenggam kepingan duka dari tanah Jawa.
Di sini, di ruang-ruang rapat yang sunyi,
Suaramu masih berdegup dalam setiap strategi,
Dalam setiap gagasan besar yang disuarakan anakmu
Untuk tanah air yang selalu rindu akan perubahan.
Andre Abdullah, sahabat, tangan yang menjulang
Menerjemahkan visi di bumi rantau…
Kau adalah pelita di senja yang panjang,
Dan Ibu adalah sumbu yang tak pernah padam.
Kini, pelita itu gemetar.
Kita kehilangan akar yang diam-diam memberi daun,
Kehilangan senyum yang menjadi semangat
Di balik layar perjuangan.
Aku terduduk hening.
Tak ada kata yang cukup berat untuk menahan langit
Yang runtuh perlahan. Kita sama-sama menatap kosong
Pada ponsel yang tak lagi berdering dengan nasehat Ibu,
Pada foto-foto di mana Ibu tersenyum tenang
Di balik setiap capaian, di balik setiap suara
Yang membahana dari Sydney untuk Indonesia.
Ibu…
Perjalanan haji telah tamat, tapi pahala tetap mengalir
Dari anak yang Ibu tinggalkan: pejuang yang tak kenal lelah,
Penyambung lidah kaum perantau yang cinta tanah air.
Betapa bahagianya Ibu, telah melepas seorang anak
Yang menjadi sahabat bagi banyak orang,
Yang menjadi benteng bagi ide-ide besar Prabowo,
Yang menjadikan “Gerindra” tak sekadar nama,
Tapi napas di negeri seberang.
Tidurlah, Ibu…
Di surga yang luasnya tak terkira.
Doa kami mengiringi, rindu kami membentang
Seperti jalur penerbangan Sydney-Jakarta yang tak pernah putus.
Dan kita yang tinggal, akan terus berjalan
Membawa cahaya yang Ibu tanam di hati Andre,
Menjadi penerus yang tak mau Ibu kecewa.
Untuk Ibu Hajjah Nur Chayati, Ibunda Haji Andre Abdullah.
Aku yang berduka, turut merasakan luruhnya salah satu pilar di hati sahabatku dan seluruh keluarga besar DPLN Partai Gerindra.
Baca juga : Untuk Hajjah Balqis Aliyah Sang Pelita yang Kembali





Lappung Media Network