Lappung – Politeknik Negeri Lampung (Polinela) sukses melakukan panen perdana ubi ungu varietas terbaru, Polinela 1 dan Polinela 2, di Unit Produksi Benih Sayuran Sekincau, Lampung Barat, Selasa, 7 Januari 2026.
Kegiatan ini menjadi tonggak baru dalam riset terapan pangan lokal berbasis umbi-umbian di Provinsi Lampung.
Baca juga : Edamame dan Okra: Komoditas yang Diam-diam Meraup Untung dari Pasar Ekspor
Wakil Direktur I Polinela, Didik Kuswadi, S.T.P., M.P., yang memimpin langsung prosesi panen menyatakan bahwa kegiatan itu merupakan bukti konkret kontribusi perguruan tinggi vokasi terhadap kemandirian pangan.
“Panen bukan sekadar seremonial, tetapi wujud nyata hilirisasi riset dosen kami.
“Kami ingin memastikan inovasi yang lahir di kampus bisa langsung diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat luas, khususnya dalam penyediaan pangan alternatif berkualitas,” ujar Didik, dilansir pada Kamis, 8 Januari 2026.
Keunggulan Varietas
Ubi ungu yang dipanen merupakan hasil penelitian dosen Polinela, Dr. Ir. Ratna Dewi, M.Si.
Menurut Ratna, kedua varietas tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan produktivitas dan kebutuhan gizi masyarakat.
“Fokus kami ada pada dua aspek, produksi tinggi dan nilai gizi.
“Polinela 1 dan 2 memiliki masa panen genjah atau lebih singkat dibanding varietas biasa, namun hasilnya tetap maksimal,” jelas Ratna.
Baca juga : Harga Tembus Rp60 Ribu, Petani Dairi Sumut Ramai-ramai Tanam Kopi Lampung
Ia merinci perbedaan spesifik kedua galur tersebut. Untuk varietas Polinela 1, keunggulan terletak pada rasa dan energi.
“Polinela 1 bentuknya lebih ramping, tapi rasanya lebih manis dan legit. Total energinya juga tinggi, cocok untuk sumber karbohidrat harian,” tambahnya.
Sementara untuk Polinela 2, Ratna menekankan pada fungsi kesehatan.
“Kalau Polinela 2, umbinya jumbo. Selain produksi tinggi, varietas ini punya aktivitas antioksidan yang sangat kuat, sangat potensial untuk pasar pangan fungsional atau kesehatan,” papar Dosen Magister Ketahanan Pangan tersebut.
Ke depan, hasil panen dari demplot kerja sama ini tidak hanya berhenti di lahan.
Polinela menargetkan varietas ini menjadi bahan baku utama industri olahan pangan.
“Harapan kami, ini bisa menjadi solusi diversifikasi pangan.
“Mahasiswa kami di Program Magister juga akan terus mengembangkan riset, mulai dari teknis budidaya hingga menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi,” pungkas Ratna.
Baca juga : Good Agricultural Practices, Kunci Sukses Kakao Pesawaran





Lappung Media Network