Lappung – Kesuksesan bangsa Tionghoa, baik di tanah leluhur maupun di perantauan, kerap menjadi studi menarik dalam sosiologi global.
Keberhasilan ini dinilai tidak lepas dari perjalanan panjang sejarah politik, struktur sosial yang solid, serta keragaman etnis yang kaya.
Baca juga : Badai Geopolitik Global: Nasib Perdagangan Indonesia di Antara 2 Raksasa
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyoroti bahwa salah satu fondasi utama kemajuan tersebut terletak pada etos kerja yang luar biasa, khususnya di kalangan perempuan.
Menurutnya, partisipasi perempuan Tiongkok dalam dunia kerja tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.
“Ini bukan fenomena yang muncul tiba-tiba. Akarnya bisa kita telusuri dari slogan Separuh Langit yang dulu digaungkan Mao Zedong untuk mendorong emansipasi,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Kamis, 8 Januari 2026.
Mahendra menjelaskan, bahwa realitas ekonomi di kota-kota besar China menuntut keluarga memiliki dua sumber pendapatan.
Uniknya, sistem keluarga besar (extended family) sangat mendukung kondisi tersebut.
“Kakek dan nenek biasanya turun tangan mengasuh cucu.
“Ekosistem keluarga itu memungkinkan perempuan tetap meniti karier tanpa harus sepenuhnya meninggalkan urusan domestik,” tambahnya.
Dominasi Han dan Mozaik Etnis
Dalam pengamatannya, Mahendra memaparkan bahwa identitas Tionghoa tidaklah tunggal.
Secara resmi, pemerintah China mengakui 56 kelompok etnis. Namun, Suku Han mendominasi populasi hingga 91 persen dan memegang kendali utama dalam struktur kekuasaan politik.
“Semua Presiden dan Sekjen Partai Komunis China selalu berasal dari Suku Han.
“Sisanya ada 55 suku minoritas seperti Zhuang, Manchu, Hui, Uyghur, hingga Tibet yang punya warna budaya tersendiri,” jelas Mahendra.
Keragaman juga terlihat di wilayah administratif khusus.
Baca juga : Geopolitik Selat Taiwan: Akankah Menjadi “The Next Ukraine”?
Di Makau, misalnya, terdapat etnis campuran unik bernama Macanese, hasil perkawinan silang antara Portugis dan Tionghoa, yang memperkaya khazanah budaya setempat.
Jejak Diaspora di Asia Tenggara
Lebih jauh, Mahendra mengulas keterkaitan demografi tersebut dengan komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Ia menyebut hampir seluruh diaspora di wilayah ini berasal dari Suku Han yang bermigrasi dari pesisir selatan China.
Di perantauan, identitas mereka lebih sering dikenali berdasarkan dialek kampung halaman:
- Hokkien: Mayoritas di Singapura, Medan, dan beberapa wilayah Jawa.
- Kanton: Banyak mendiami Kuala Lumpur.
- Hakka dan Teochew: Tersebar luas di Kalimantan, khususnya Singkawang dan Pontianak.
“Gelombang migrasi besar dari selatan inilah yang membawa budaya Han ke Nusantara. Sementara suku lain seperti Mongol atau Tibet cenderung menetap di pedalaman daratan,” terangnya.
Transformasi Marga di Indonesia
Salah satu poin menarik yang digarisbawahi Mahendra adalah soal identitas marga. Bagi masyarakat Tionghoa, marga adalah penanda vital.
Meski secara historis ada ribuan, saat ini sekitar 85 persen penduduk China hanya menggunakan 100 marga utama seperti Wang, Li, Zhang, Liu, dan Chen.
Namun, di Indonesia, identitas tersebut mengalami transformasi unik akibat kebijakan politik masa lalu.
Banyak marga yang disamarkan atau diasimilasi ke dalam nama-nama lokal.
“Kita melihat transformasi menarik. Marga Liem berubah menjadi Salim atau Halim, Tan menjadi Tanudjaja atau Kartanegara, dan Oey menjadi Widjaja,” ungkap Mahendra.
Kendati nama telah berubah, Mahendra menegaskan bahwa esensi kekeluargaan tidak luntur.
“Nilai-nilai leluhur tetap dijaga ketat, salah satunya lewat perkumpulan marga yang masih sangat aktif hingga hari ini sebagai wadah silaturahmi sosial,” pungkasnya.
Baca juga : Prancis Siagakan RS Hadapi





Lappung Media Network