Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Kenangan untuk Nanang Trenggono: Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998

    Kenangan untuk Nanang Trenggono: Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998

    Irjen by Irjen
    22/01/2026
    in Gaya Hidup
    Kenangan untuk Nanang Trenggono: Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998

    Mengenang almarhum Dr. Nanang Trenggono. Foto: Arsip Unila

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Puisi ini merupakan sebuah elegi (syair duka) sekaligus testimoni sejarah yang ditulis oleh Mahendra Utama untuk mengenang almarhum Dr. Nanang Trenggono.

    Secara garis besar, puisi ini tidak hanya mengungkapkan rasa kehilangan atas wafatnya seorang akademisi di RS Imanuel akibat sakit, tetapi juga menyoroti peran heroik almarhum pada masa-masa genting menjelang Reformasi 1998.

    Baca juga : Selayar Rasa di Empat Perhentian, Karya: Mahendra Utama 

    Penulis menggambarkan suasana mencekam era Orde Baru (1996-1998), di mana aktivis mahasiswa khususnya dari kelompok SMID dan PRD mengalami represi berat dan pengejaran oleh aparat militer.

    Dalam situasi penuh tekanan tersebut, sosok Nanang Trenggono digambarkan sebagai oasis atau pelindung.

    Ia bukan sekadar dosen yang mentransfer ilmu di ruang kelas FISIP Unila, melainkan figur ayah dan sahabat yang berani mengambil risiko dengan memberikan perlindungan, akses literasi, dan dukungan moral kepada mahasiswa yang diburu rezim.

    Puisi ini ditutup dengan doa-doa keagamaan yang tulus (Islam) serta penegasan bahwa meski sosok fisiknya telah tiada, semangat demokrasi dan keberanian yang diajarkan oleh Nanang Trenggono akan terus hidup dalam jiwa para Eksponen 98.

    Baca juga : Di Bawah Langit Merah Kemakmuran, Karya: Mahendra Utama 

    KENANGAN UNTUK NANANG TRENGGONO

    (Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998)

     

    Duka

    Kabar duka datang di Rabu kelam,

    Nanang Trenggono, sang guru, telah berpulang.

    Syaraf kejepit merenggut nyawa,

    di RS Imanuel Bandar Lampung.

    Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn

    Kita milik Allah, dan kepada‑Nyalah kita kembali.

     

    Gelora 1996‑1998

    Era itu, rezim masih menggigit,

    ABRI beringas, membungkam suara.

    SMID dan PRD diburu, dituduh makar,

    kami, aktivis kampus, bagai tawanan di lorong gelap.

    Tapi semangat tak bisa dipenjara,

    demonstrasi, selebaran, diskusi bawah tanah

    kami berjuang untuk reformasi,

    untuk kebebasan yang belum terjamah.

     

    Sang Dosen Pembela

    Di tengah tekanan, kau hadir, Pak Nanang,

    dosen FISIP Unila yang berhati lapang.

    Kau beri ruang di kantor, kirim buku,

    kau lindungi kami dari razia aparat.

    Kau tak sekadar mengajar ilmu,

    kau ajarkan keberanian, keadilan, dan nurani.

    Kau adalah oasis di padang represi,

    sosok akademisi yang berpihak pada rakyat.

     

    Kenangan Mahe

    Aku, Mahe, aktivis PRD Lampung,

    ingat betul senyummu yang menenangkan.

    Kau bisikkan, “Jangan takut, perjuangan kalian benar.”

    Kau dengar curhat kami tentang ancaman dan teror.

    Kau tak pernah menjauh, justru mendekat,

    memberi dukungan moral yang kukuh.

    Kini kau pergi, meninggalkan luka yang dalam,

    tapi kenangan itu tetap hidup, abadi.

     

    Doa untuk Almarhum

    Allāhumaghfirlahu warhamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.

    Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia,

    sehatkanlah dia dan maafkanlah kesalahannya.

    Tempatkanlah di sisi‑Mu yang terbaik,

    di antara orang‑orang yang beriman.

    Husnul khatimah menjadi penghantarmu,

    semoga amalmu diterima, dan perjuanganmu menjadi inspirasi.

     

    Warisan Nanang Trenggono

    Kau mungkin tiada, Pak Nanang,

    tapi api reformasi yang kau kobarkan takkan padam.

    Kami, eksponen 98, akan terus melangkah,

    mengawal demokrasi yang dulu kami perjuangkan.

    Kau tinggalkan jejak dosen yang peduli,

    pengawal pemilu yang jujur, sahabat aktivis yang setia.

    Selamat jalan, guru… perjuanganmu takkan kami lupakan.

     

     

    Catatan Konteks Historis:

     

    Puisi di atas ditulis berdasarkan memori personal penulis (Mahendra Utama) sebagai aktivis mahasiswa Unila pada periode 1996‑1998.

     

    Saat itu, gerakan mahasiswa (terutama dari organisasi seperti SMID dan PRD) menghadapi represi keras dari aparat militer Orde Baru.

     

    Dukungan dari dosen‑dosen seperti Dr. Nanang Trenggono menjadi oxygen yang menyelamatkan semangat perjuangan. Kepergian almarhum adalah kehilangan besar bagi dunia akademik dan para pejuang demokrasi di Lampung.

     

    Ditulis oleh Mahendra Utama, Eksponen 98

    Baca juga : Doa untuk Tanah Rencong dan Serambi Melayu, Karya: Mahendra Utama

    Tags: Aktivis 98 LampungBerita Duka LampungDosen FISIP UnilaEksponen 98Mahendra UtamaNanang TrenggonoNanang Trenggono MeninggalPuisi Duka CitaPuisi ReformasiSejarah PRD LampungTokoh Pers LampungUniversitas Lampung
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Optimisme Bapenda Lampung yang Semu: Janji Manis di Tengah Rapor Merah PAD

    Next Post

    Kejagung-KPK Keroyok Dugaan Pidana HGU Sugar Group Companies di Lampung

    Related Posts

    Inilah 6 Perbedaan BPJS dan Asuransi Swasta
    Gaya Hidup

    Inilah 6 Perbedaan BPJS dan Asuransi Swasta yang Wajib Anda Tahu!

    28/05/2026
    Ulasan Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
    Gaya Hidup

    Ulasan Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini: Fondasi Membentuk Generasi Cerdas dan Mandiri

    26/05/2026
    10 Cara Menurunkan Berat Badan Alami dan Sehat
    Gaya Hidup

    10 Cara Menurunkan Berat Badan Alami dan Sehat dalam 30 Hari: Terbukti Efektif!

    25/05/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Beasiswa Desa Wonomarto

      Beasiswa Desa Wonomarto: BUMDes dan Sumbangan Warga untuk SDM Unggul

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Cocoa Academy Bisa Jadi Solusi Cerdas Kakao Lampung

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • 10 Oleh-Oleh Khas Lampung yang Wajib Dibeli: Murah dan Tahan Lama!

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Dari Jerat ke Kehidupan: Kisah Penyelamatan dan Peran Pemprov Lampung

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Ulasan Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini: Fondasi Membentuk Generasi Cerdas dan Mandiri

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Dampak Ekonomi Cocoa Academy di Lampung Timur

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved