Lappung – Puisi ini merupakan sebuah elegi (syair duka) sekaligus testimoni sejarah yang ditulis oleh Mahendra Utama untuk mengenang almarhum Dr. Nanang Trenggono.
Secara garis besar, puisi ini tidak hanya mengungkapkan rasa kehilangan atas wafatnya seorang akademisi di RS Imanuel akibat sakit, tetapi juga menyoroti peran heroik almarhum pada masa-masa genting menjelang Reformasi 1998.
Baca juga : Selayar Rasa di Empat Perhentian, Karya: Mahendra Utama
Penulis menggambarkan suasana mencekam era Orde Baru (1996-1998), di mana aktivis mahasiswa khususnya dari kelompok SMID dan PRD mengalami represi berat dan pengejaran oleh aparat militer.
Dalam situasi penuh tekanan tersebut, sosok Nanang Trenggono digambarkan sebagai oasis atau pelindung.
Ia bukan sekadar dosen yang mentransfer ilmu di ruang kelas FISIP Unila, melainkan figur ayah dan sahabat yang berani mengambil risiko dengan memberikan perlindungan, akses literasi, dan dukungan moral kepada mahasiswa yang diburu rezim.
Puisi ini ditutup dengan doa-doa keagamaan yang tulus (Islam) serta penegasan bahwa meski sosok fisiknya telah tiada, semangat demokrasi dan keberanian yang diajarkan oleh Nanang Trenggono akan terus hidup dalam jiwa para Eksponen 98.
Baca juga : Di Bawah Langit Merah Kemakmuran, Karya: Mahendra Utama
KENANGAN UNTUK NANANG TRENGGONO
(Duka dan Doa dari Seorang Aktivis 1998)
Duka
Kabar duka datang di Rabu kelam,
Nanang Trenggono, sang guru, telah berpulang.
Syaraf kejepit merenggut nyawa,
di RS Imanuel Bandar Lampung.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn
Kita milik Allah, dan kepada‑Nyalah kita kembali.
Gelora 1996‑1998
Era itu, rezim masih menggigit,
ABRI beringas, membungkam suara.
SMID dan PRD diburu, dituduh makar,
kami, aktivis kampus, bagai tawanan di lorong gelap.
Tapi semangat tak bisa dipenjara,
demonstrasi, selebaran, diskusi bawah tanah
kami berjuang untuk reformasi,
untuk kebebasan yang belum terjamah.
Sang Dosen Pembela
Di tengah tekanan, kau hadir, Pak Nanang,
dosen FISIP Unila yang berhati lapang.
Kau beri ruang di kantor, kirim buku,
kau lindungi kami dari razia aparat.
Kau tak sekadar mengajar ilmu,
kau ajarkan keberanian, keadilan, dan nurani.
Kau adalah oasis di padang represi,
sosok akademisi yang berpihak pada rakyat.
Kenangan Mahe
Aku, Mahe, aktivis PRD Lampung,
ingat betul senyummu yang menenangkan.
Kau bisikkan, “Jangan takut, perjuangan kalian benar.”
Kau dengar curhat kami tentang ancaman dan teror.
Kau tak pernah menjauh, justru mendekat,
memberi dukungan moral yang kukuh.
Kini kau pergi, meninggalkan luka yang dalam,
tapi kenangan itu tetap hidup, abadi.
Doa untuk Almarhum
Allāhumaghfirlahu warhamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia,
sehatkanlah dia dan maafkanlah kesalahannya.
Tempatkanlah di sisi‑Mu yang terbaik,
di antara orang‑orang yang beriman.
Husnul khatimah menjadi penghantarmu,
semoga amalmu diterima, dan perjuanganmu menjadi inspirasi.
Warisan Nanang Trenggono
Kau mungkin tiada, Pak Nanang,
tapi api reformasi yang kau kobarkan takkan padam.
Kami, eksponen 98, akan terus melangkah,
mengawal demokrasi yang dulu kami perjuangkan.
Kau tinggalkan jejak dosen yang peduli,
pengawal pemilu yang jujur, sahabat aktivis yang setia.
Selamat jalan, guru… perjuanganmu takkan kami lupakan.
Catatan Konteks Historis:
Puisi di atas ditulis berdasarkan memori personal penulis (Mahendra Utama) sebagai aktivis mahasiswa Unila pada periode 1996‑1998.
Saat itu, gerakan mahasiswa (terutama dari organisasi seperti SMID dan PRD) menghadapi represi keras dari aparat militer Orde Baru.
Dukungan dari dosen‑dosen seperti Dr. Nanang Trenggono menjadi oxygen yang menyelamatkan semangat perjuangan. Kepergian almarhum adalah kehilangan besar bagi dunia akademik dan para pejuang demokrasi di Lampung.
Ditulis oleh Mahendra Utama, Eksponen 98
Baca juga : Doa untuk Tanah Rencong dan Serambi Melayu, Karya: Mahendra Utama





Lappung Media Network