Lappung – Pembukaan rute internasional perdana Bandara Radin Inten II menuju Kuala Lumpur bukan sekadar urusan prestise daerah.
Ada kalkulasi efisiensi logistik dan waktu yang dinilai jauh lebih menguntungkan, terutama bagi sekitar 24 ribu jemaah umroh asal Lampung setiap tahunnya.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah perbandingan rute transit via Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA).
Menurutnya, opsi terbang langsung ke negeri jiran sukses memangkas rantai birokrasi transit yang selama ini menguras fisik jemaah.
“Penerbangan Lampung ke Jakarta memang cuma satu jam. Masalahnya ada di darat,” ungkap Mahendra, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menyoroti waktu tunggu di Soekarno-Hatta yang kerap molor hingga 4-6 jam imbas padatnya lalu lintas udara dan jadwal connecting flight.
Praktis, total waktu yang dihabiskan jemaah sejak berangkat dari Lampung hingga lepas landas menuju Jeddah bisa memakan waktu 10 sampai 12 jam.
Skema jauh berbeda ditawarkan rute Lampung–Kuala Lumpur.
Dengan durasi terbang hanya 2 jam 5 menit, jemaah langsung mendarat di KLIA, yang notabene merupakan salah satu hub penerbangan haji dan umroh terbesar di Asia Tenggara.
Tingginya frekuensi penerbangan lanjutan dari KLIA ke Tanah Suci membuat jadwal transit menjadi lebih terukur dan ringkas.
“Jemaah tidak kelelahan akibat transit panjang. Biaya logistik pun otomatis tertekan, selaras dengan perhitungan yang sebelumnya disampaikan Wagub Jihan Nurlela.
“Ini alternatif paling rasional sebelum Pemprov mewujudkan rute direct Lampung-Madinah pasca Idul Adha nanti,” tegas Mahendra.
Mengapa Abaikan Singapura?
Di tengah euforia dibukanya rute Malaysia, muncul pertanyaan publik, Mengapa bukan Singapura yang menjadi prioritas penerbangan internasional pertama dari Lampung?
Menjawab hal ini, Mahendra meminta publik melihat kembali rekam jejak industri aviasi di Lampung.
Pada era kepemimpinan Gubernur Ridho Ficardo (2017-2019), rute Lampung-Singapura sebenarnya pernah diuji coba.
Namun, rute tersebut layu sebelum berkembang karena pasarnya tidak stabil.
Target pasar Singapura saat itu terlalu mengerucut pada sektor bisnis dan wisata medis kelas menengah atas.
Berbeda tajam dengan rute Malaysia yang digerakkan oleh captive market raksasa, para pekerja migran dan jemaah umroh.
“Dalam bisnis penerbangan, memulai dari rute berpermintaan masif dengan operasional rendah adalah keharusan.
“Kalau ke depan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan wisata medis di Lampung sudah benar-benar pesat, barulah Singapura masuk akal jadi target ekspansi berikutnya,” pungkasnya.





Lappung Media Network