Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang mengulas tentang: Kesiapan Lampung Menuju Hilirisasi Kakao Indonesia.
Kesiapan Lampung Menuju Hilirisasi Kakao Indonesia
Oleh: Mahendra Utama*
Dari Bahan Mentah ke Produk Bernilai Tambah
Hilirisasi kakao di Lampung bukan pilihan, melainkan keharusan. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa banyak komoditas Lampung keluar mentah sehingga nilai ekonominya tidak dinikmati masyarakat.
Transformasi dari ekonomi berbasis bahan mentah menuju ekonomi berbasis nilai tambah menjadi kunci.
Langkah Strategis yang Harus Disiapkan
Pertama, penguatan pascapanen. Kualitas biji kakao harus ditingkatkan melalui fermentasi dan pengeringan yang tepat. Program solar dryer yang diinisiasi Gubernur Mirza menjadi contoh konkret.
Kedua, pembangunan kawasan industri kakao terpadu. Pemprov Lampung telah menyiapkan kawasan industri 50 hektare di Lampung Timur untuk memproduksi cocoa butter hingga cokelat siap Ekspor.
Ketiga, penguatan kelembagaan petani dan akses pembiayaan. BPDLH telah menyalurkan dana bergulir berbunga 3 persen per tahun kepada petani kakao di Pesawaran dan Lampung Timur.
Membangun Rantai Nilai yang Terintegrasi
Teori rantai nilai (value chain) Porter menekankan pentingnya integrasi setiap tahap produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.
Lampung harus memastikan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan primer, tetapi juga menghasilkan produk turunan bernilai tinggi seperti cocoa butter, bubuk kakao, dan cokelat premium.
Dukungan PT Buhler Indonesia melalui transfer teknologi dan riset pengembangan menjadi sinyal positif bahwa Lampung siap menjadi pusat industri kakao premium dunia.
SDM dan Riset sebagai Fondasi
Tanpa SDM terampil, hilirisasi hanya akan menjadi wacana. Pelatihan petani, pendampingan industri, dan pengembangan riset di tingkat desa harus menjadi prioritas.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset akan memastikan bahwa Lampung tidak hanya menjadi pengekspor biji kakao, tetapi juga produsen produk kakao bernilai tambah yang berdaya saing global. (*)
——————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Eksponen 98.





Lappung Media Network