Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Andai Lampung Gelar Penetrasi Pasar Serentak, Ini Manfaatnya.
Andai Lampung Gelar Penetrasi Pasar Serentak, Ini Manfaatnya
Oleh: Mahendra Utama*
Menguji Skenario Kebijakan Pangan
Umpamakan sebuah provinsi sebut saja Lampung mengambil langkah berani: Gubernur menggandeng Bulog menggelar “Gerakan Serentak Penetrasi Pasar” di 15 kabupaten/kota sekaligus.
Apakah langkah ini ampuh menstabilkan harga? Secara teori dan pengalaman empiris, jawabannya tegas: ya. Artikel ini mengupas mengapa skenario semacam itu sangat menjanjikan.
Memangkas Rantai, Memangkas Harga & Teori Marjin Berlebih Mubyarto
Pakar ekonomi kerakyatan Mubyarto (1995) mengidentifikasi bahwa harga pangan di Indonesia seringkali membengkak akibat excess margin pada rantai distribusi panjang.
Setiap mata rantai tengkulak, pengepul, grosir mengambil keuntungan hingga 15%. Ketika Bulog hadir langsung di operasi pasar, rantai dipangkas drastis, dan selisih harga bisa langsung dinikmati konsumen.
Bustanul Arifin (2018) menghitung bahwa pemangkasan satu simpul distribusi mampu menekan harga eceran 10–20%. Inilah fondasi efisiensi dari skenario “penetrasi pasar”.
Membunuh Ekspektasi Inflasi & Pelajaran dari Teori Ekspektasi Rasional
Lucas (1972) dan Muth (1961) mengajarkan bahwa ekspektasi pelaku pasar mempengaruhi harga aktual. Jika pedagang mempercayai harga akan naik, mereka menahan stok, dan harga benar-benar naik sebuah ramalan yang terwujud sendiri (self-fulfilling prophecy).
Operasi pasar yang masif, serentak, dan transparan mengirim sinyal kredibel bahwa stok melimpah dan intervensi negara kuat. Sinyal ini mematahkan insentif spekulasi dan menstabilkan ekspektasi.
Skala Serentak sebagai Kunci & Mengapa Harus 15 Kabupaten/Kota Sekaligus?
Operasi pasar yang parsial seringkali memicu migrasi pembeli dari daerah tetangga, menciptakan antrean artifisial dan bahkan kelangkaan lokal. Dengan eksekusi serentak di semua kabupaten/kota, tekanan permintaan terdistribusi merata.
Efek psikologis kolektif ini masyarakat tahu mereka bisa mengakses pangan murah tanpa perlu panic buying adalah keunggulan kompetitif yang hanya bisa dicapai dengan koordinasi skala provinsi.
Skenario ini juga memberdayakan petani lokal karena Bulog menyerap hasil panen setempat. (*)
————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
