Lappung – Rentetan bencana alam yang menghantam wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat.
Namun, dibalik peristiwa tragis tersebut, pola penanganan darurat yang dilakukan pemerintah bersama elemen masyarakat dinilai menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan peristiwa sebelumnya.
Baca juga : Diplomasi Tanpa Blok: Mengapa Prabowo Subianto Disegani Dunia
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti adanya perubahan pola respons yang lebih cepat, terukur, dan kolaboratif dalam manajemen bencana kali ini.
Menurutnya, koordinasi lintas sektoral yang terbangun menjadi kunci vital dalam meminimalisir dampak yang lebih luas.
“Respons yang terbangun kali ini cukup berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.
“Ada kecepatan, ada koordinasi yang lebih baik, dan yang paling penting adalah kehadiran langsung di lapangan,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Sabtu, 3 Desember 2025.
Kepemimpinan Langsung di Titik Nol
Mahendra mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal memberikan instruksi tegas untuk memobilisasi seluruh sumber daya negara.
Mulai dari alat berat, logistik, hingga personel gabungan dikerahkan tanpa penundaan.
Selain itu, konsistensi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang turun langsung ke lokasi bencana turut menjadi sorotan.
Mahendra menilai, langkah tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan upaya memastikan rantai distribusi bantuan berjalan efektif hingga ke tangan korban.
“Bagi korban bencana, kehadiran pemimpin di tengah reruntuhan rumah mereka itu bukan hal sepele. Itu sinyal kuat bahwa mereka tidak sendirian dan negara hadir,” tegasnya.
Pangkas Sekat Birokrasi
Efektivitas penanganan bencana kali ini juga terlihat dari cairnya sekat birokrasi antar lembaga.
TNI, Polri, BNPB, BPBD, kementerian terkait, hingga pemerintah daerah dinilai mampu bergerak dalam satu komando yang solid.
Baca juga : Jurus Diplomasi Ekonomi Prabowo: Kemitraan Kapal Rp87 Triliun, Solusi Win-Win RI-Inggris
Mahendra mencatat pengerahan kekuatan logistik yang masif, termasuk pengiriman lebih dari 50 helikopter dan puluhan pesawat kargo untuk menembus daerah terisolir.
Salah satu capaian krusial adalah pemulihan akses jalan vital Padang-Bukittinggi yang sempat putus total, kini telah pulih lebih dari 90 persen dalam waktu singkat.
“Memang masih ada pekerjaan rumah, tapi kecepatan pemulihan infrastruktur ini patut diapresiasi,” imbuh Mahendra.
Semangat Gotong Royong dan Fase Pemulihan
Di luar peran pemerintah, gelombang solidaritas masyarakat sipil dinilai luar biasa.
Relawan dari berbagai organisasi, komunitas, hingga sektor swasta bahu-membahu menyalurkan bantuan dana, barang, maupun tenaga.
Hal ini membuktikan bahwa modal sosial bangsa berupa gotong royong masih sangat kuat.
Menatap fase rehabilitasi dan rekonstruksi, Mahendra menyambut baik komitmen pemerintah yang berjanji akan bekerja habis-habisan.
Rencana pembangunan Hunian Sementara (Huntara), bantuan tunai, perbaikan lahan pertanian, hingga dukungan psikososial dinilai sebagai pendekatan yang komprehensif.
“Pendekatan ini lebih utuh. Tidak sekadar membangun fisik gedung, tapi juga memulihkan harapan para korban,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Mahendra menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh petugas di garis depan, TNI, Polri, Basarnas, tenaga medis, dan relawan yang bekerja tanpa lelah di medan berat.
Ia berharap pola kolaborasi solid antara pemerintah, swasta, dan masyarakat ini dapat dijadikan standar baku manajemen bencana nasional ke depannya.
“Indonesia memang negara rawan bencana secara geografis.
“Tapi kalau pola kolaborasi seperti ini terus dijaga, kita pasti bisa lebih tangguh menghadapi tantangan berikutnya,” pungkas Mahendra.
Baca juga : 1 Tahun Prabowo-Gibran: Faisol Riza, Aktor Kunci Di Balik Akselerasi Industri Nasional





Lappung Media Network