Lappung – Provinsi Lampung kini menjelma menjadi magnet baru bagi investor asing, beralih dari citra lamanya sebagai daerah transit di ujung Pulau Sumatera.
Perubahan signifikan ini didorong oleh strategi baru di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (Iyai Mirza).
Baca juga : Cuan Mana Tanam Singkong atau Jagung?
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai latar belakang Gubernur Mirza sebagai pengusaha membawa perubahan fundamental dalam pendekatan pemerintah daerah.
“Ada pergeseran nyata dari pendekatan birokratis kaku menjadi lebih pro-bisnis dan menjemput bola. Ini yang dicari investor,” ujar Mahendra Utama, Minggu, 26 Oktober 2025.
Mahendra menunjuk penyelenggaraan Lampung Economic Investment Forum (LEIF) 2025 sebagai gebrakan konkret.
Forum tersebut, jelasnya, bukan sekadar seminar, melainkan ruang negosiasi langsung di mana investor disuguhkan proyek-proyek yang sudah matang dengan dokumen kelayakan (feasibility study) yang lengkap.
“Investor merasa lebih yakin karena semua data tersaji jelas. Mereka bisa langsung one-on-one meeting dengan bupati atau wali kota terkait,” tambahnya.
5 Kawasan Primadona Investasi
Menurut analisis Mahendra Utama, dari serangkaian roadshow dan LEIF 2025, ada 5 daerah di Lampung yang paling diminati oleh investor asing dengan fokus proyek yang beragam:
- Lampung Selatan: Bakauheni Harbour City. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai pelabuhan feri, kini digarap menjadi kawasan maritim terpadu seluas 160 hektar. Konsepnya mencakup marina untuk kapal pesiar, hotel berbintang, resort tepi pantai, dan area komersial. Proyek ini diprediksi akan mengubah total wajah gerbang Sumatera.
- Panjang, Bandarlampung: Pabrik Hilirisasi Raksasa. Kawasan ini menjadi sorotan utama setelah Louis Dreyfus Company (LDC), raksasa komoditas asal Swiss, menanamkan investasi USD 160 juta. Dana besar itu digunakan untuk membangun pabrik gliserin yang akan mengolah produk turunan sawit menjadi bahan baku industri farmasi dan kosmetik.
- Lampung Timur: Energi Hijau PLTS Terapung. Investor di sektor energi terbarukan (EBT) melirik Lampung Timur. Bukti keseriusan ini adalah proyek PLTS Terapung di Bendungan Way Jepara berkapasitas 27,4 MW. Pemasangan panel surya di atas permukaan bendungan ini menjadi solusi cerdas di tengah keterbatasan lahan.
- Kemiling, Bandarlampung: Agrowisata Modern. Di ibu kota provinsi, proyek AgriPark Kemiling menarik minat investor dengan konsep unik. Proyek ini menggabungkan pertanian modern berbasis teknologi dengan wisata edukasi (agrowisata) skala besar, yang bertujuan memberdayakan petani lokal melalui transfer teknologi.
- Lampung Tengah & Katibung: Kawasan Industri Strategi. Dua wilayah ini menjadi incaran utama investor manufaktur karena lokasinya yang sangat strategis. Keduanya diapit oleh Tol Trans Sumatera dan tidak jauh dari akses pelabuhan, menjadikannya lokasi ideal untuk pengembangan kawasan industri baru.
Serap Kerja Lokal dan Hilirisasi
Di sisi lain, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, dalam sebuah diskusi dengan wartawan beberapa waktu lalu, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung tidak asal menerima investasi.
Baca juga : Indonesia 2025: Pertumbuhan dan Pemerataan di Bawah Prabowo
Mirza menetapkan filter yang jelas, investasi yang masuk harus mampu menyerap tenaga kerja lokal secara maksimal dan, yang terpenting, mendorong hilirisasi atau pengolahan produk daerah.
“Kami nggak cuma lihat angka investasinya besar. Tapi apakah dia bisa menciptakan lapangan kerja? Apakah dia mengolah produk lokal atau cuma eksploitasi bahan mentah?,” ungkap Mirza.
Mahendra Utama menambahkan, pendekatan ini menempatkan Lampung di persimpangan jalan yang krusial.
Modal infrastruktur yang terus membaik, mulai dari Tol Trans Sumatera, perluasan pelabuhan, hingga modernisasi bandara harus dimanfaatkan untuk menarik investasi berkualitas.
“Tantangannya adalah memastikan realisasi investasi ini memberi dampak sosial-ekonomi yang nyata.
“Jika strategi hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja lokal ini konsisten, Lampung bisa menjadi model bagi daerah non-Jawa.
“Namun jika gagal, masyarakat lokal berisiko hanya jadi penonton,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Menyambut Langkah Agresif Jawa Timur: Saatnya Lampung Bangkit Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri





Lappung Media Network