Lappung – Fenomena video viral di platform TikTok yang memperlihatkan suasana tenang di jalanan Tehran, Iran, belakangan ini menyita perhatian publik internasional.
Namun, narasi damai yang beredar di media sosial tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.
Baca juga : Iran di Ambang Krisis: Ketika Pedagang Pasar Berbalik Melawan Rezim
Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama, mengingatkan agar publik tidak terkecoh dengan visual yang tampak di permukaan.
Menurutnya, di balik klaim pemerintah Iran yang menyebut situasi terkendali pasca penangkapan agen intelijen asing, terdapat gejolak sosial-politik yang jauh lebih kompleks.
“Kita melihat pola yang berulang. Pemerintah Iran membangun narasi keamanan telah pulih dan menuding ancaman datang dari luar.
“Padahal, laporan independen menunjukkan tekanan domestik yang sangat berat.
“Stabilitas yang terlihat di video-video itu mungkin tidak sekuat yang dibayangkan,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Selasa, 13 Januari 2026.
Pengalihan Isu
Mahendra menyoroti strategi klasik yang digunakan Teheran dalam menghadapi tekanan dalam negeri.
Ia merujuk pada pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menyebut negaranya menghadapi perang empat front, mulai dari militer hingga psikologis.
Menurut Mahendra, framing ini sengaja diciptakan untuk mendeligitimasi protes warga.
“Ketika aspirasi warga dianggap sebagai agenda asing atau perang teroris, maka pemerintah punya legitimasi untuk bertindak represif.
“Ini cara mengalihkan perhatian dari krisis internal ke ancaman eksternal,” tegasnya.
Data yang dihimpun dari berbagai organisasi hak asasi manusia, seperti Iran Human Rights (IHR), mencatat realitas yang kontras dengan video viral tersebut.
Ratusan korban jiwa dilaporkan jatuh, termasuk anak-anak, sementara akses internet sempat diputus total selama empat hari untuk memblokir arus informasi.
Dua Wajah
Lebih lanjut, Mahendra mengupas sisi menarik dari manuver diplomatik Iran.
Meski di depan rakyatnya rezim menampilkan retorika keras dan anti Barat, saluran komunikasi di belakang layar justru tetap terbuka.
Baca juga : Guncangan dari Greenland: Mengapa Macron dan Uni Eropa “Muak” pada Trump?
“Ini pendekatan berlapis. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dilaporkan masih berkomunikasi dengan utusan AS.
“Bahkan Gedung Putih mengakui pesan privat Iran sangat berbeda dengan teriakannya di publik,” jelas Mahendra.
Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya menyadari posisi tawar mereka yang sulit, namun harus tetap terlihat garang demi menjaga wibawa di mata pendukung domestiknya melalui demonstrasi-demonstrasi besar yang disiarkan televisi nasional.
Bom Waktu
Mahendra menilai, ketenangan semu yang terjadi saat ini hanyalah jeda sementara.
Akar permasalahan sesungguhnya yakni ekonomi yang morat-marit belum tersentuh.
Inflasi yang menyentuh angka hampir 39 persen membuat kehidupan warga sipil semakin terhimpit.
“Ada ungkapan warga di sana yang merasa hidupnya menggantung di udara tanpa harapan. Ketika perut lapar dan ruang gerak dibatasi, ketenangan itu rapuh,” katanya.
Mahendra pun menekankan bahwa sebagai pemerhati, masyarakat global perlu melihat lebih jeli melampaui layar gawai.
“Rezim mungkin bisa meredam gejolak sesaat dengan strategi keamanan dan narasi intelijen asing.
“Tapi selama keadilan ekonomi dan ruang sipil tidak dibuka, ini hanya menunggu waktu sebelum gelombang berikutnya datang,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Diplomasi “Seribu Kawan”: Menakar Langkah Catur Global Presiden Prabowo
