Lappung – Kinerja ekspor Provinsi Lampung menunjukkan pencapaian impresif pada September 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan 9,64 persen.
Angka ini secara signifikan melampaui rata-rata pertumbuhan ekspor nasional yang hanya berada di level 4,7 persen pada awal tahun.
Baca juga : Krisis Dermaga Merak-Ketapang: Urat Nadi Ekonomi Terhambat
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai pencapaian itu membuktikan peran vital Lampung sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Di saat ekonomi global sedang tidak menentu, Lampung justru bersinar.
“Ini bukan sekadar angka, tapi bukti nyata bahwa daerah mampu menjadi penyangga utama ekonomi nasional melalui komoditas andalannya,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 4 November 2025.
Mahendra menjelaskan, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung utama yang menopang kinerja positif tersebut.
Komoditas unggulan seperti Kopi Robusta dan Lada, yang telah lama mendunia, masih menjadi primadona ekspor.
“Kita tahu Lada Lampung pernah menyumbang hingga 42 persen dari total ekspor lada Indonesia. Ini adalah aset besar,” tambahnya.
Meski demikian, Mahendra menyoroti adanya tren baru yang lebih menjanjikan, yakni pergeseran dari penjualan bahan mentah ke produk olahan bernilai tambah.
“Yang menarik sekarang adalah mulai tumbuhnya ekspor produk turunan.
“Tepung mocaf dari singkong, biji kopi sangrai (roasted bean), dan berbagai produk olahan lainnya mulai banyak diminati pasar luar negeri,” jelasnya.
Baca juga : Hilirisasi Jeruk Siam: Lampung Menuju Kedaulatan Ekonomi
Menurutnya, pergeseran ini mengindikasikan bahwa industri agro di Lampung mulai bergerak ke hilirisasi, yang memberikan nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan hanya menjual bahan mentah.
Mahendra juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, yang dinilai serius mendorong diversifikasi produk dan membuka akses pasar baru.
“Kesuksesan ini tentu didukung oleh kebijakan. Upaya Pemprov mendorong diversifikasi dan melakukan digitalisasi layanan, seperti urusan permohonan karantina yang kini lebih cepat, sangat membantu pelaku usaha,” katanya.
Walaupun mencatatkan kinerja positif, Mahendra mengingatkan agar para pemangku kepentingan tidak cepat berpuas diri.
Ia merujuk pada tantangan ke depan, khususnya untuk komoditas tertentu.
“Ada studi yang memperingatkan bahwa tanpa strategi yang tepat, volume ekspor lada berisiko turun hingga 10 persen per tahun hingga 2033. Ini harus menjadi catatan serius,” tegasnya.
Ia menyimpulkan bahwa Lampung telah membuktikan kapasitasnya sebagai daerah berbasis agro-industri yang dikelola dengan baik.
“Lampung membuktikan bahwa strategi jitu di sektor agro-industri bisa memberi sumbangsih besar bagi devisa nasional. Momentum ini harus terus dijaga dan ditingkatkan,” tutup Mahendra.
Baca juga : 3 Pilar Pangan dan Ekonomi Lampung Selatan





Lappung Media Network