Sementara itu, nilai impor Provinsi Lampung pada bulan Mei 2024 tercatat sebesar US$149,74 juta.
Mengalami penurunan drastis sebesar 37,14 persen dibandingkan bulan April 2024 (m-to-m) dan 15,77 persen dibandingkan Mei 2023 (y-on-y).
“Mayoritas impor didominasi oleh bahan baku/penolong dengan nilai US$121,60 juta (81,21 persen).
“Diikuti oleh barang konsumsi sebesar US$24,58 juta (16,42 persen) dan barang modal sebesar US$3,56 juta (2,37 persen),” jelas Kepala BPS.
Australia menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$55,50 juta (37,06 persen), diikuti oleh Thailand sebesar US$31,36 juta (20,95 persen).
Baca juga : Lampung Dapat 3 Kabupaten Baru, Jokowi Beri Restu
Lalu, Amerika Serikat US$31,14 juta (20,80 persen), Brazil US$9,84 juta (6,57 persen), dan Tiongkok US$9,43 juta (6,30 persen).
Ekspor Lampung Naik, Neraca Perdagangan Surplus
Komoditas ekspor utama Provinsi Lampung adalah bahan bakar mineral yang menduduki peringkat teratas dengan nilai US$92,24 juta (28,54 persen).
Diikuti oleh lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$87,73 juta (27,14 persen), instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis sebesar US$34,46 juta (10,66 persen).
Kemudian, olahan dari sayuran, buah, dan kacang sebesar US$27,01 juta (8,36 persen), dan pulp dari kayu sebesar US$21,05 juta (6,51 persen).
Di sisi impor, komoditas utama terdiri dari gula dan kembang gula dengan nilai US$51,53 juta (34,41 persen) serta binatang hidup sebesar US$25,81 juta (17,23 persen).
Data terbaru ini menunjukkan bahwa Provinsi Lampung terus mengalami pertumbuhan yang positif dalam sektor perdagangan internasional.
Peningkatan surplus neraca perdagangan yang signifikan ini menunjukkan potensi besar dan keberlanjutan ekonomi Provinsi Lampung di masa mendatang.
Baca juga : Mendag: Harga Pangan Lampung Stabil Kecuali Cabai





Lappung Media Network