Lappung – Puisi Gerhana di Bandar Lampung karya Mahendra Utama ini menggambarkan 2 lapisan makna yang saling terkait.
Lapisan pertama adalah penggambaran suasana Kota Bandar Lampung saat terjadi gerhana bulan.
Baca juga : 1 September di Lampung
Penulis dengan apik melukiskan suasana kota yang hening, dengan pemandangan bukit dan Teluk Lampung sebagai saksi bisu fenomena alam tersebut.
Peristiwa langit ini tidak digambarkan secara terpisah, melainkan dihubungkan dengan kehidupan masyarakat lokal, seperti para nelayan yang menatap bulan dengan penuh harapan.
Ini menciptakan sebuah gambaran yang utuh, di mana alam dan manusia menyatu dalam satu momen kontemplatif.
Pada lapisan kedua yang lebih dalam, puisi ini menggunakan gerhana sebagai metafora untuk sebuah jeda atau ujian dalam hubungan cinta.
Sang penyair (Aku) merasakan koneksi batin dengan seseorang yang dicintainya, seolah keduanya berbagi perasaan yang sama saat menatap langit.
Gerhana yang bersifat sementara diibaratkan seperti tantangan dalam cinta yang pada akhirnya akan berlalu dan kembali bersinar.
Baca juga : Aku Terus Menorehkan Kata
Puncak dari puisi ini adalah sebuah ode untuk kota kelahiran, Bandar Lampung, yang bukan sekadar menjadi latar tempat, melainkan bagian tak terpisahkan dari kisah cinta itu sendiri.
Lanskap kota seperti bukit dan laut menjadi simbol pelukan dan kesetiaan, menjadikan momen gerhana sebagai rekaman abadi dari perasaan cinta dan kerinduan.
Gerhana di Bandar Lampung
Minggu malam, bulan merunduk di langit
Bandar Lampung berbalut selimut sunyi,
bukit-bukit berdiri bagai penjaga setia,
menyaksikan cahaya rembulan
pelan-pelan dilahap bayangan semesta.
Di Teluk Lampung, ombak berbisik lirih,
perahu-perahu berlabuh dengan doa,
dan pelabuhan, denyut nadi ekonomi
berkelindan dengan harapan nelayan
yang menatap bulan—
sebelum ia sembunyi di balik rahasia gelap.
Aku mendengar suaramu di kejauhan,
bukan dari bibir,
melainkan dari getar yang sama
saat kita menengadah ke langit.
Gerhana hanyalah jeda,
seperti cinta yang diuji waktu,
namun selalu kembali bersinar.
Oh kota kelahiranku,
engkau bukan hanya tanah dan laut,
engkau adalah hati yang menampung
seluruh kerinduan—
bukitmu mengingatkan pada pelukan,
lautmu mengajarkan kesetiaan,
dan bulan malam ini,
merekam kisah cinta kita
dalam diam yang abadi.
Telukbetung
7 September 2025
Mahendra Utama
Baca juga : Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta





Lappung Media Network