Lappung – Puisi “1 September di Lampung” menggambarkan sebuah peristiwa aksi damai yang terjadi di Bandarlampung.
Penulis melukiskan suasana di mana ribuan orang dari berbagai kalangan, rakyat kecil, mahasiswa, bahkan TNI dan Polri, berkumpul menjadi satu.
Baca juga : Aku Terus Menorehkan Kata
Fokus utama puisi ini adalah pesan bahwa aksi tersebut bukanlah didasari oleh amarah atau keinginan untuk menciptakan kekacauan, melainkan oleh harapan tulus untuk menyuarakan aspirasi.
Penulis menekankan niat konstruktif dari para peserta aksi, yakni bukan untuk meruntuhkan, tapi untuk membangun negeri.
Suasana yang digambarkan sangat idealis, di mana semua elemen bangsa berdiri di halaman demokrasi yang sama untuk menuntut kejujuran dan keadilan.
Lebih dalam, puisi ini merefleksikan sebuah cita-cita tentang bagaimana demokrasi seharusnya berjalan.
Penulis menggunakan metafora yang menyejukkan, seperti aspirasi yang diibaratkan doa yang mengalun dan suara rakyat yang tak pernah lahir dari kebencian.
Hal ini menunjukkan sebuah harapan besar agar penyampaian pendapat di ruang publik dapat berlangsung dengan damai dan terhormat.
Baca juga : Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta
Sebagai seorang Eksponen 98, penulis seolah membandingkan semangat reformasi di masa lalu dengan visinya untuk masa depan.
Ia berharap Lampung dapat menjadi teladan dalam menyulam damai dan peristiwa 1 September ini akan dikenang bukan sebagai hari konflik, melainkan sebagai hari di mana demokrasi Indonesia dapat bernafas dengan sejuk.
1 September di Lampung
Di bawah langit Bandar Lampung,
ribuan langkah menyatu dalam derap suara,
bukan amarah yang ingin dirawat,
melainkan harapan yang ingin disuarakan.
Kawat berduri tak lebih dari garis pengingat,
bahwa perbedaan tak harus menyalakan api,
bahwa aspirasi bisa lahir dengan teduh,
seperti doa yang mengalun di antara megafon.
Aku melihat wajah muda penuh semangat,
membawa tulisan dengan tinta nurani,
bukan untuk meruntuhkan,
tapi untuk membangun negeri.
Rakyat kecil, Mahasiswa, TNI dan Polri
berdiri dalam satu halaman yang sama,
halaman demokrasi,
yang menuntut kejujuran dan keadilan.
Wahai Lampung, tanah sayangku,
jadilah teladan dalam menyulam damai,
sebab suara rakyat adalah doa,
dan doa tak pernah lahir dari kebencian.
Biarlah 1 September dikenang,
bukan sebagai hari luka,
tetapi sebagai hari ketika
jalan-jalan dipenuhi harapan,
dan demokrasi kita bernafas dengan sejuk.
Sumur Batu, 1 September 2025
Mahendra Utama
Eksponen 98
Baca juga : Menyerap Cahaya Ponpes Hingga Menjaga Marwah Pulau-pulau Nusantara





Lappung Media Network