Lappung – Situasi geopolitik Timur Tengah kembali memanas di awal tahun 2026.
Iran, sebagai salah satu kekuatan utama kawasan, tengah menjadi sorotan dunia menyusul gelombang protes domestik yang berbarengan dengan tekanan eksternal dari Barat.
Baca juga : Di Ambang Brinkmanship: Ketegangan AS-Iran Januari 2026
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyoroti dinamika ini sebagai ujian berat bagi Teheran.
Menurutnya, meski diguncang demonstrasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang Rial dan inflasi tinggi sepanjang Januari, rezim Ayatullah menunjukkan resistensi yang terukur.
“Awal 2026 memang periode menantang bagi Iran. Ribuan warga turun ke jalan karena himpitan ekonomi.
“Namun, data dari berbagai sumber, termasuk media Rusia dan Tiongkok, menunjukkan Teheran mampu mengendalikan situasi lebih cepat dari prediksi pengamat Barat,” ujar Mahendra dalam analisis tertulisnya, Minggu, 18 Januari 2026.
Mahendra merujuk pada pidato Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada 17 Januari 2026 lalu.
Dalam pidato tersebut, Khamenei menegaskan bahwa Iran berhasil memadamkan upaya destabilisasi yang dituding didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Pernyataan Khamenei ini sinyal kuat. Itu menunjukkan rezim masih memegang kendali penuh atas aparat keamanan dan berhasil membangun narasi bahwa kerusuhan ini adalah campur tangan asing, bukan murni kegagalan domestik,” tambahnya.
3 Pilar
Dalam pandangan Mahendra, kemampuan Iran bertahan dari badai Januari tidak lepas dari apa yang ia sebut sebagai strategi 3 pilar.
Strategi ini dirancang untuk melepaskan diri dari jerat sanksi Amerika Serikat dan sekutunya.
“Pertama, mereka memperkuat ketahanan dalam negeri. Kedua, dan ini yang paling krusial, Iran membangun kerja sama strategis dengan Rusia dan Tiongkok.
Baca juga : Badai Geopolitik Global: Nasib Perdagangan Indonesia di Antara 2 Raksasa
“Dukungan Moskow dan Beijing, baik militer maupun ekonomi, menjadi sekoci penyelamat di tengah sanksi,” jelas Mahendra.
Pilar ketiga, lanjutnya, adalah diplomasi regional yang aktif.
Iran terus merawat poros resistensi yang melibatkan Suriah, Hizbullah di Lebanon, dan kelompok perlawanan lainnya.
Aliansi tersebut menjadi kartu truf Teheran untuk menjaga keseimbangan kekuatan di Timur Tengah agar tidak didominasi kepentingan AS.
Dampak Regional dan Tantangan Ekonomi
Mahendra memperingatkan, jika Iran berhasil menjaga stabilitas politiknya pasca Januari 2026, pengaruh mereka di kawasan akan tetap kokoh.
Hal ini berpotensi memperpanjang ketegangan dengan Israel dan negara-negara Teluk, namun sekaligus mencegah dominasi tunggal Barat.
Sebaliknya, jika krisis internal ini gagal diredam dan berkepanjangan, Washington bisa memanfaatkan celah tersebut untuk melemahkan aliansi regional Iran.
“Paradoksnya, jika Iran runtuh atau terlalu lemah, justru bisa memicu ketidakstabilan yang lebih luas dan konflik tak berkesudahan di kawasan tersebut,” ulasnya.
Menutup analisisnya, Mahendra menekankan bahwa kemenangan taktis Iran meredam gejolak Januari bukanlah akhir segalanya.
Tantangan terbesar Teheran sesungguhnya ada pada perbaikan struktur ekonomi.
“Mampu meredam demo adalah satu hal, tapi menyelesaikan akar masalahnya adalah hal lain.
“Tanpa reformasi ekonomi substantif, diversifikasi pendapatan, dan pengendalian inflasi, posisi Iran tetap rentan.
“Stabilitas jangka panjang mereka sangat bergantung pada ‘pekerjaan rumah’ di sektor ekonomi ini,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Guncangan dari Greenland: Mengapa Macron dan Uni Eropa “Muak” pada Trump?
