Perjalanan jauh bersama Kepala Bidang Pemberdayaan Industri, Hendra Siswanto, menemukan jedanya di Rumah Makan Omega.
Semangkuk pindang ikan baung dengan kuah kuning pedas, ditemani lalapan segar dan sambal tempoyak khas Lampung, menjadi saksi bisu diskusi ringan di luar jam kantor.
Hidangan ini, sejatinya, adalah produk agroindustri itu sendiri ikan baung segar yang diolah, menciptakan nilai tambah.
Sebuah analogi sederhana dari apa yang sedang kami kawal: mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Pukul 14.16 WIB, kami tiba di Desa Wono Agung. Menyusuri Jalan Lintas Timur Sumatera yang legendaris, kami berbelok di Simpang 3 Banjar Agung.
Di sana, Mujianto, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan Mujiono, pengelola bed dryer serta Rice Milling Unit (RMU), telah menunggu. Hingga pukul 16.07 WIB, obrolan berlangsung intens.
Integrasi Pascapanen sebagai Kunci
Di sini, teori Nilai Tambah (Value Addition) sangat relevan. Dalam ekonomi pertanian, nilai jual gabah kering panen (GKP) anjlok jika tidak segera dikeringkan.
Bed dryer dan RMU adalah simpul kritis. Ia bukan hanya alat, melainkan instrumen yang memutus rantai ketergantungan petani pada tengkulak saat panen raya.
Dengan mengeringkan dan menggiling sendiri, petani di Wono Agung tidak menjual gabah, melainkan beras sebuah lompatan margin keuntungan yang signifikan.
Menuju Ujung Timur: Mesuji dan Janji Kesejahteraan Baru
Membelah Jalur Kanal Demi Sebuah Kesiapan
Sore kian merayap. Pukul 16.07 WIB, kami berpamitan dan mengarahkan kendaraan ke titik terjauh: Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji.
Jalan di sebelah kanal menjadi pemandu, menempuh jarak 38 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam 5 menit.
Akses yang tidak mudah ini menjadi bukti betapa sektor pertanian di wilayah perbatasan timur Lampung ini butuh perhatian lebih.
