Pukul 17.44 WIB, kami tiba di kediaman Hj. Atun, seorang tokoh penggerak petani setempat.
Agenda di sini berbeda: bukan monitoring, melainkan assessment kesiapan lokasi calon penerima bantuan bed dryer untuk tahun anggaran 2026.
Ini adalah proses perencanaan partisipatif, memastikan bahwa bantuan tepat sasaran baik dari sisi SDM pengelola maupun kesiapan kelembagaan kelompok tani.
Teori Pembangunan: Lebih dari Sekadar Mesin
Kehadiran alat seperti bed dryer tidak bisa dilepaskan dari kerangka Transformasi Struktural ala Hollis B. Chenery.
Teori ini menekankan bahwa pembangunan ekonomi mensyaratkan pergeseran dari sektor pertanian tradisional berproduktivitas rendah menuju sektor industri pengolahan yang lebih produktif.
Mesuji Timur, dengan potensi lahan dan semangat warganya, adalah contoh entitas yang sedang bergerak di jalur transformasi itu.
Bantuan mesin bukanlah akhir, melainkan stimulus awal untuk memicu industrialisasi pedesaan (rural industrialization).
Magrib tiba. Pukul 18.10 WIB, setelah berbincang di teras rumah Hj. Atun, kami disuguhi jamuan istimewa: gulai ikan kakap putih, udang galah besar, dan ikan seluang goreng. Luar biasa.
Makan malam itu bukan sekadar pengisi perut, melainkan simbol keberhasilan ekosistem pangan lokal.
Bersama Kadis Perindag Lampung, Zimmi Skil, TPP Gubernur Ardiansyah, dan Wakil Ketua Kadin Lampung Romi Junanto Utomo, kami sepakat bahwa kolaborasi pemerintah dan dunia usaha adalah niscaya.
Refleksi: Konektivitas dan Keberpihakan
Pukul 20.11 WIB, kami pamit. Kendaraan melaju kembali menuju Bandar Lampung melalui pintu Tol Simpang Pematang. Dalam keheningan perjalanan malam, ada benang merah yang terjalin.
Dari Kali Asin, Wono Agung, hingga Tanjung Mas Makmur, terlihat jelas implementasi Teori Pusat Pertumbuhan (Growth Pole) dari François Perroux.
Pemerintah provinsi mencoba menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perdesaan melalui injeksi teknologi.
Bed dryer adalah “industri kunci” yang diharapkan menciptakan efek pengganda (multiplier effect), memutar roda ekonomi desa, menyerap tenaga kerja, dan pada akhirnya mewujudkan kesejahteraan yang inklusif.
Tugas kami belum selesai. Memastikan mesin-mesin itu terus berputar, memastikan kelembagaan petani tetap solid, adalah pekerjaan rumah sekaligus tanggung jawab moral. Sebab, kedaulatan pangan sejati dimulai dari keberdayaan di tingkat tapak. (*)
————————————————————–
*Penulis: Mahendra Utama adalah TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
