Lappung – Puisi Jejakmu di Negeri Hukum adalah sebuah doa dari penulis, Mahendra Utama, kepada seorang sahabat bernama Andrie Wahyu Setiawan yang berprofesi sebagai Jaksa.
Paragraf awal puisi ini membangun narasi tentang hubungan persahabatan mereka yang tulus, yang terjalin bukan karena status atau jabatan, melainkan karena kesamaan nilai integritas dan dedikasi.
Baca juga : Pahlawan dalam Sunyi
Penulis menggambarkan sosok Andrie sebagai penegak hukum yang lurus hati (tegap tak berjarak dari nurani) dan memegang teguh prinsip keadilan.
Karakter Andrie diperkuat melalui metafora “bambu” sosok yang fleksibel dan bijaksana dalam menghadapi tantangan (membungkuk bila perlu), namun tetap memiliki prinsip yang kokoh dan tak tergoyahkan (tak pernah patah dalam badai).
Puisi ini juga menyoroti perjalanan karier Andrie yang berpindah-pindah tugas, dari Lampung, Jakarta, Kalimantan, hingga penugasan barunya di Riau.
Baca juga : Syukur Jalan Raya
Lebih dari sekadar catatan perjalanan karier, puisi ini mengangkat makna pengabdian seorang penegak hukum.
Penulis memandang tugas Andrie bukan hanya sebagai sebuah pekerjaan, melainkan sebagai sebuah “dakwah” dan amanah untuk menjaga kepercayaan publik (penjaga denyut kepercayaan publik).
Perpindahan tugas ke Riau disambut dengan pepatah Melayu “Yang ringan sama dijinjing, yang berat sama dipikul,” yang menyiratkan harapan agar Andrie dapat memikul tanggung jawab barunya dengan semangat kebersamaan.
Pada akhirnya, puisi ini ditutup dengan sebuah doa dan harapan besar, semoga Andrie senantiasa menjadi penegak hukum yang berani, jujur, tidak gentar menghadapi tekanan, dan tidak tergiur oleh godaan duniawi.
Baca juga : Senja Kopi di Pelukan Malang
Jejakmu di Negeri Hukum
Oleh: Mahendra Utama
Di balik toga dan lentera keadilan,
kau langkahkan kaki, tegap tak berjarak dari nurani.
Aku ingat betul, Talangpadang jadi saksi,
persahabatan yang tumbuh—bukan karena jabatan,
tapi karena hati yang jujur dan dedikasi.
“Hukum itu tiang negeri, bila bengkok, robohlah segalanya,”
kata pepatah Tionghoa yang kau jalani dalam diam.
Kau tak hanya bicara hukum,
kau menegakkannya seperti bambu—liat tapi kokoh,
membungkuk bila perlu, namun tak pernah patah dalam badai.
Saat kita bersua di udara—AirAsia jadi langit pertemuan,
kau ke Kejaksaan Agung, aku ke Mitratani di Kelapa Gading.
Obrolan kita tak sekadar basa-basi,
tapi saling kuatkan, seperti dua mata pena
yang pernah menulis berita dan kini menggurat kebenaran.
Kini Riau menyambutmu,
dengan semilir Melayu dan amanah baru.
“Yang ringan sama dijinjing, yang berat sama dipikul,”
begitu pesan tua dari tanah Lancang Kuning—
yang kini jadi rumah tugasmu yang baru.
Kau bukan hanya Jaksa,
kau adalah penjaga denyut kepercayaan publik.
Dari Jakarta ke Kalimantan, Lampung hingga Pekanbaru,
jejakmu menyatu dalam palu keadilan dan kata-kata kebenaran.
Selamat bertugas, Adinda Andrie,
Semoga Allah SWT limpahkan keberkahan
dalam setiap dakwah tugas yang kau emban.
Bukan sekadar jabatan,
tapi sebuah pengabdian.
Karena negeri ini butuh penegak hukum
yang tak gentar berdiri di tengah badai
dan tak silau oleh gemerlap dunia.
Jember, 18 Juli 2025
Mahendra Utama
Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis
Baca juga : Affan, Lurus Jalan, Terang Laku
