Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Kemasan adalah Ujung Tombak Hilirisasi, Lampung Perlu Seriusi Industri Pendukung.
Kemasan adalah Ujung Tombak Hilirisasi, Lampung Perlu Seriusi Industri Pendukung
Oleh: Mahendra Utama*
Hilirisasi Tanpa Kemasan Hanya Setengah Langkah
Lampung sedang berada di momentum emas. Bappenas resmi mendukung Lampung sebagai pusat hilirisasi komoditas pangan nasional. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bahkan menargetkan hilirisasi lima komoditas strategis: kelapa, kopi, lada, ubi kayu, dan udang.
Namun ada satu mata rantai kritis yang kerap terlupakan: industri kemasan.
Dalam teori Competitive Advantage Michael Porter, keunggulan kompetitif sebuah industri tidak hanya ditentukan oleh faktor produksi, tetapi juga oleh keberadaan industri pendukung (supporting industries) yang membentuk ekosistem nilai tambah.
Kemasan adalah industri pendukung itu. Tanpa kemasan yang memadai, produk olahan baik kopi bubuk, tepung tapioka, maupun kakao olahan tidak akan mampu bersaing di pasar modern, apalagi pasar ekspor.
Potensi Besar, Tantangan Nyata
Lampung adalah penghasil utama singkong nasional dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap produksi tapioka Indonesia. Kopi robusta Lampung menduduki peringkat kedua nasional dengan nilai ekspor mencapai 132,38 juta dolar AS. Nanas Lampung menyumbang sekitar 23 persen produksi nanas dunia.
Wakil Gubernur Jihan Nurlela menegaskan bahwa kehadiran lini pengemasan minyak nabati baru milik Louis Dreyfus Company (LDC) dengan kapasitas tahunan 64.800 metrik ton adalah langkah penting dalam upaya hilirisasi dan penguatan daya saing komoditas pertanian.
Ini membuktikan bahwa industri besar sudah mulai serius menggarap kemasan.
Sayangnya, lonjakan harga plastik akibat konflik global membuat biaya produksi UMKM melonjak 10–30 persen. Unit Kemasan Bersama (UKB) Kota Bandar Lampung baru melayani 187 pengusaha UMKM angka yang masih sangat kecil dibandingkan potensi agroindustri Lampung.
Rekomendasi untuk Gubernur Mirza
Hilirisasi tanpa kemasan adalah setengah langkah. Saya menyarankan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal untuk:
1. Memasukkan industri kemasan sebagai prioritas dalam kawasan industri pangan yang diusulkan ke Bappenas.
2. Memberikan insentif bagi pabrik kemasan plastik dan kertas yang berinvestasi di Lampung.
3. Memperkuat Unit Kemasan Bersama di setiap kabupaten/kota sebagai fasilitas bersama UMKM.
Seperti disampaikan Gubernur Mirza, “Bagaimana sisa komoditas yang belum dihilirisasi ini dapat diolah di Lampung. Karena itu, dibutuhkan kawasan industri pangan agar nilai tambah tetap berada di daerah”. Nilai tambah itu tidak akan maksimal jika produk olahan masih kesulitan mendapatkan kemasan yang layak. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network