Lappung – Konsumsi masyarakat Lampung bikin ekonomi naik daun.
Perekonomian Provinsi Lampung terus menunjukkan kinerja yang mengesankan.
Dari data yang dilansir Bank Indonesia Perwakilan Lampung, Jumat, 8 November 2024, pada triwulan III tahun 2024, ekonomi daerah ini tercatat tumbuh sebesar 4,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Baca juga : Pemberdayaan Ekonomi Melalui Mangrove: Lampung Siap Maju Menuju Ekowisata Berkelanjutan
Meski hanya mengalami peningkatan tipis dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,80 persen, hasil ini menegaskan bahwa ekonomi Lampung tetap stabil di tengah berbagai tantangan.
Salah satu faktor utama yang mendorong stabilitas pertumbuhan ini adalah konsumsi masyarakat yang tetap kuat.
Konsumsi rumah tangga tumbuh hingga 4,95 persen (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat 4,69 persen.
Pertumbuhan ini disokong oleh daya beli masyarakat yang terjaga baik, sehingga konsumsi tetap menjadi penopang utama ekonomi di Lampung.
Belanja Pemerintah, Ekspor Global, dan Industri Pengolahan Menguat
Tak hanya konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah juga berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Lampung.
Kinerja konsumsi pemerintah tumbuh 2,81 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,39 persen.
Peningkatan ini dipicu oleh penyaluran bantuan sosial serta belanja pemerintah dalam persiapan Pilkada 2024.
Baca juga : Bakauheni Harbour City: Katalisator Baru Ekonomi Lampung
Dari sisi ekspor, Lampung menunjukkan daya saing di pasar global.
Ekspor luar negeri non migas Provinsi Lampung tercatat tumbuh signifikan hingga 25,52 persen (yoy), naik dari 10,67 persen pada triwulan sebelumnya.
Komoditas andalan seperti kopi robusta dan batubara menjadi primadona ekspor yang terus diminati di pasar internasional.
Meningkatnya permintaan global ini turut menguatkan perekonomian di daerah.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan juga mengalami lonjakan tajam.
Kinerja lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 10,54 persen (yoy), meningkat dari 4,79 persen pada triwulan sebelumnya.
Industri makanan dan minuman, terutama produk pakan ternak dan buah olahan, menjadi motor penggerak utama, didukung tingginya permintaan domestik dan ekspor.
Investasi dan Ekspor Antar Daerah Melambat
Meski tumbuh positif, Lampung masih menghadapi tantangan dari sisi investasi dan ekspor antar daerah.
Baca juga : Lampung Incar Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi di 2025
Pertumbuhan investasi tercatat melambat, dari 3,30 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 1,30 persen (yoy) di triwulan III.
Perlambatan ini disebabkan oleh penurunan kinerja sektor konstruksi, yang turut berdampak pada investasi bangunan.
Di sisi lain, kinerja net ekspor antar daerah justru mengalami kontraksi hingga 42,41 persen (yoy), menjadi tantangan yang harus diwaspadai.
Penurunan ekspor antar daerah ini disebabkan oleh berkurangnya permintaan dari wilayah lain di Indonesia, meski ekspor internasional tetap menguat.
Konsumsi Masyarakat Lampung Bikin Ekonomi Naik Daun
Bank Indonesia memandang prospek ekonomi Lampung masih cerah ke depan.
Dan menilai pentingnya peningkatan produktivitas di sektor pertanian dan hilirisasi produk unggulan.
Hilirisasi, menurut BI, mampu memberikan nilai tambah bagi produk pangan Lampung, sehingga ekonomi daerah dapat terus bertumbuh lebih tinggi.
Lampung juga diarahkan untuk memperkuat net ekspor melalui diversifikasi produk setengah jadi dan jadi, serta mendorong usaha kecil menengah (UKM) untuk mengekspos produknya ke pasar ekspor.
Hal ini diharapkan dapat membantu Lampung menghadapi berbagai risiko eksternal yang mungkin muncul.
Optimisme ini pun menjadi harapan agar Provinsi Lampung dapat semakin berkembang, berdaya saing, dan mencapai kesejahteraan ekonomi yang lebih baik di masa mendatang.
Baca juga : Konsumsi dan Investasi Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Lampung





Lappung Media Network