Lappung – Pernyataan Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Roeslani, yang mengungkap adanya praktik memoles laporan keuangan di sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai sebagai sinyal positif bagi reformasi korporasi pelat merah.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut kritik tersebut bukan sekadar tudingan, melainkan sebuah alarm keras agar BUMN kembali ke jalur yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Baca juga : 5 Pernyataan Dony Oskaria tentang Kebangkitan BUMN
Menurut Mahendra, langkah Rosan ini sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal menekankan pentingnya efisiensi dan tata kelola yang bersih (good governance) di seluruh lini birokrasi, termasuk BUMN.
“Kritik yang dilontarkan Pak Rosan ini justru menjadi angin segar.
“Ini bukan untuk menjatuhkan, tapi ajakan membangun agar BUMN berhenti mengejar citra laba artifisial dan kembali fokus pada hal-hal yang produktif,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 21 Oktober 2025. .
Dalam kritiknya, Rosan Roeslani secara gamblang menyoroti adanya oknum komisaris yang diduga mendorong praktik pencitraan laba semu demi mengejar bonus atau tantiem.
Ia bahkan menegaskan tidak akan segan untuk mengoreksi buku keuangan BUMN-BUMN besar yang datanya dinilai jauh dari realitas operasional.
Mahendra menilai ketegasan ini sangat relevan dengan semangat yang diusung Presiden Prabowo.
“Sikap ini pas dengan tuntutan Pak Prabowo yang ingin birokrasi bekerja jujur dan berani melawan kebiasaan buruk yang sudah lama terjadi,” jelasnya.
Baca juga : BPI Danantara Resmi Larang Komisaris BUMN Terima Tantiem dan Insentif Kinerja
Langkah Danantara ini juga diperkirakan akan mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Pengelola BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, yang dikenal memiliki rekam jejak profesional dan pengalaman panjang dalam membenahi manajemen korporasi.
Lebih jauh, Mahendra memandang kritik ini sebagai momentum untuk mendorong reformasi nyata dalam pengelolaan BUMN.
Beberapa langkah konkret yang bisa segera diimplementasikan antara lain menghapus celah perolehan tantiem berlebihan yang tidak berbasis kinerja riil, memperkuat fungsi audit internal, dan mengedepankan laporan keuangan yang realistis.
“Fokusnya harus kembali pada efisiensi, inovasi, dan tanggung jawab kepada publik.
“Dengan begitu, integritas korporasi negara dapat dipulihkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kombinasi kepemimpinan Presiden Prabowo yang tegas, visi strategis Rosan Roeslani, serta disiplin profesional dari Dony Oskaria menjadi modal besar bagi BUMN Indonesia.
Jika momentum ini dijaga, BUMN diyakini mampu menjadi kekuatan ekonomi yang bersih, sehat, dan berdaya saing tinggi di tingkat regional.
“Pada akhirnya, kritik ini adalah cermin bagi para pengelola BUMN untuk kembali jujur pada misi awalnya, menyejahterakan rakyat dan menjaga kepercayaan yang diberikan oleh bangsa,” pungkas Mahendra.
Baca juga : PTPN di Era Danantara





Lappung Media Network