Tradisi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keimanan umat, dengan syarat acara yang digelar membawa pesan positif dan menghindari hal-hal yang dilarang agama.
“Yang penting, jika ingin merayakan Maulid Nabi, isi dengan kegiatan yang mendidik dan bermanfaat, seperti pengajian atau kajian tentang keteladanan Rasulullah,” ujarnya.
Baca juga : Prasasti Palas Pasemah dan Batu Bedil, Bukti Kejayaan Lampung di Nusantara
Dalam pandangan Majelis Tarjih, peringatan Maulid yang bermanfaat adalah yang mengandung nilai dakwah, meningkatkan keimanan, dan menginspirasi umat.
Tak lain untuk lebih mencintai dan meneladani Nabi Muhammad SAW.
Amirudin juga mengutip QS. Al-Ahzab: 21, yang menegaskan bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik bagi umat Islam.
Tradisi yang Tidak Tergerus Zaman
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi tetap menjadi tradisi yang dipertahankan dari generasi ke generasi.
Meski sering kali menimbulkan perdebatan, tradisi ini tetap hidup karena dianggap sebagai momen penting untuk mengingat perjuangan dan akhlak Rasulullah.
Namun, masyarakat diingatkan untuk tidak terjebak dalam ritual tanpa makna.
“Rayakan dengan bijak, fokus pada makna spiritual, dan hindari berlebihan,” pesan Amirudin.
Sebagai penutup, Majelis Tarjih menegaskan bahwa setiap Muslim bebas merayakan Maulid Nabi, asal tetap berpegang pada ajaran Islam dan tidak melanggar syariat.
Dengan begitu, peringatan ini tidak hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan memperdalam kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Baca juga : 9 Warisan Budaya Lampung Resmi Jadi Harta Karun Indonesia





Lappung Media Network