Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Menakar “Kesaktian” Desa Wisata Lampung: Bukan Sekadar Jual Pemandangan

    Menakar “Kesaktian” Desa Wisata Lampung: Bukan Sekadar Jual Pemandangan

    Irzon Dwi Darma by Irzon Dwi Darma
    01/02/2026
    in Gaya Hidup
    Menakar "Kesaktian" Desa Wisata Lampung: Bukan Sekadar Jual Pemandangan

    Ilustrasi: Kontradiksi pesona desa wisata Lampung vs realita infrastruktur. Foto: Arsip Lappung/DBS/I

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung belum lama ini merilis daftar 5 desa wisata unggulan.

    Yakni, Desa Wisata Rigis Jaya (Lampung Barat), Kelawi (Lampung Selatan), Pulau Pahawang dan Harapan Jaya (Pesawaran), serta Kiluan (Tanggamus).

    Meski kelima desa tersebut memiliki catatan prestasi mentereng, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengingatkan agar pemerintah dan pengelola tidak lantas berpuas diri.

    Menurutnya, predikat “unggulan” bukan sekadar soal sertifikasi atau pemandangan yang instagramable, melainkan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal.

    Mahendra menilai, kesuksesan 5 desa tersebut seperti Rigis Jaya dengan agrowisata kopinya atau Kelawi dengan konservasi penyu terletak pada penerapan Community Based Tourism (CBT).

    “Kunci keberhasilan mereka bukan hanya alamnya, tapi karena masyarakat lokal tidak dijadikan penonton.

    “Warga di sana bukan sekadar figuran, tapi sutradara utama pariwisata. Inilah yang disebut pariwisata berkelanjutan,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Minggu, 1 Februari 2026.

    Diferensiasi dan Branding Digital

    Mahendra mencontohkan, Desa Rigis Jaya sukses karena tidak hanya menjual biji kopi, melainkan menjual pengalamanmemetik kopi.

    Sementara itu, kekuatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di desa-desa tersebut didukung oleh branding digital yang masif di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

    Namun, ia juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, masih banyak potensi lain seperti Danau Ranau atau situs sejarah Pugung Raharjo yang kalah dalam narasi digital.

    “Menyebut 5 desa itu sebagai satu-satunya yang terbaik rasanya terlalu gegabah.

    “Banyak destinasi lain yang punya nilai sejarah tinggi tapi tenggelam karena kurangnya sentuhan digital dan narasi yang kuat,” tambahnya.

    Top Down dan Infrastruktur

    Lebih jauh, Mahendra menyoroti peran pemerintah daerah yang dinilai kerap terjebak pada formalitas.

    Ia mengingatkan agar kebijakan tidak bersifat top down atau memaksakan satu template yang sama untuk semua desa.

    Setiap desa memiliki keunikan lokal (path dependency) yang tidak bisa diseragamkan.

    Selain itu, Mahendra menekankan isu krusial yang kerap dikeluhkan wisatawan, integrasi antarmoda dan infrastruktur jalan.

    “Percuma desa wisatanya bagus, punya status unggulan, tapi akses jalannya bolong-bolong seperti permukaan bulan.

    “Wisatawan domestik akan berpikir dua kali jika harus kelelahan di jalan sebelum sampai tujuan,” tegas Mahendra.

    Ia juga mempertanyakan rantai pasok (supply chain) kuliner di destinasi wisata.

    Pemerintah harus memastikan bahwa kuliner yang disajikan di desa wisata menggunakan bahan baku dari petani setempat, bukan barang impor dari luar daerah, agar perputaran ekonomi benar-benar dirasakan warga.

    Naik Kelas

    Untuk mendorong pariwisata Lampung naik kelas dan menjadi poros baru setelah Bali dan Yogyakarta, Mahendra menyarankan 3 langkah konkret.

    Yaitu, standardisasi hospitality yang tetap menjaga kearifan lokal, pemanfaatan big data untuk promosi yang tepat sasaran, serta penerapan green tourism.

    “Jangan sampai desa wisata berubah menjadi tiruan hotel berbintang yang kehilangan roh lokalnya. Pelatihan warga itu penting, tapi identitas budaya harus tetap dijaga,” paparnya.

    Mahendra menutup dengan optimisme bahwa jika regulasi pro komunitas berjalan beriringan dengan eksekusi lapangan yang nyata bukan sekadar seremonial potong pita, Lampung memiliki modal besar untuk mendunia.

    “Perlu kolaborasi serius. Kalau ini digarap benar, Lampung bisa jadi destinasi utama, bukan sekadar alternatif,” pungkasnya.

    Tags: #DesaWisataIndonesia#MahendraUtama#PariwisataLampung#TurismeKomunitasLampung
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Wamen PKP Pastikan Hunian Pesisir Muara Angke Layak

    Next Post

    PON 2032: Riau Vote Lampung!

    Related Posts

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama
    Gaya Hidup

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    11/03/2026
    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sering Sebut Galer? Selamat, Istilahmu Kini Resmi Masuk KBBI

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kakanwil BPN Sumsel Sambangi Kantah Banyuasin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • PDRB Bandarlampung Versus PDRB Palembang: Siapa Unggul?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mayjen Kristomei Sianturi, Putra Kotabumi Lampung, Jabat Pangdam Radin Inten

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kantor Pertanahan Banyuasin Kobarkan Gerakan Gemapatas 2025

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved