Lappung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menunjukkan dampak signifikan, tidak hanya pada peningkatan gizi anak tetapi juga pada perputaran roda ekonomi di tingkat desa.
Hingga Juli 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 213 ribu anak, sebuah lonjakan drastis dari 97 ribu penerima pada Maret 2025.
Baca juga : Dukung Program Presiden, Kapolri Bangun 20 Unit Dapur Gizi di Lampung
Kisah Rani, seorang siswi kelas 4 SD di pelosok Lampung Barat, menjadi cerminan nyata manfaat program ini.
Sebelumnya, ia sering berangkat sekolah dengan perut kosong.
Kini, menu bergizi seperti nasi, ikan, sayur, dan susu menjadi santapan hariannya di sekolah.
“Saya jadi semangat belajar, Bu. Sekarang kalau pelajaran matematika, kepala saya tidak pusing lagi,” tutur Rani.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa MBG adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi unggul.
Menurutnya, program ini merupakan fondasi penting untuk menyambut Indonesia Emas 2045.
“Anak-anak yang sehat dan bergizi akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan kompetitif.
“Ini adalah pondasi menuju Indonesia Emas 2045 dan Lampung Maju,” tegas Gubernur Mirza.
Baca juga : 2 Pahlawan Gizi dari Jember: Edamame dan Okra, Superfood Lokal yang Menaklukkan Pasar Global
Keberhasilan program itu, menurut Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama, terletak pada model sinergi kebijakan yang dirancang secara cermat.
Program tersebut tidak berhenti pada pemberian makanan, tetapi juga memberdayakan ekosistem ekonomi lokal.
“Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah program sosial dapat menjadi penggerak ekonomi.
“Dengan melibatkan petani lokal sebagai pemasok bahan baku dan memberdayakan keluarga prasejahtera sebagai tenaga dapur, pemerintah menciptakan siklus ekonomi yang positif dan berkelanjutan di tingkat akar rumput,” jelas Mahendra Utama, Minggu, 7 September 2025.
Kolaborasi Daerah dan Dampak di Lapangan
Semangat sinergi ini juga dijalankan di tingkat kabupaten/kota.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan komitmennya untuk menyukseskan program ini dengan memastikan implementasi yang cepat dan berdampak.
“Kunci sukses program adalah impact full, sustainable, dan memiliki kecepatan dalam merespon kebutuhan masyarakat,” ujar Radityo.
Pihaknya bahkan mendorong pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Nasional (SPPG) di tingkat kecamatan untuk koordinasi yang lebih efektif.
Dampak positif program juga dirasakan langsung di sektor pendidikan dan kesehatan.
Baca juga : 3 Juta Anak Lampung Segera Nikmati Makan Bergizi Gratis
Apriyani, seorang guru SD di Metro, mengungkapkan perubahan perilaku belajar siswa.
“MBG ini sangat membantu. Anak-anak jadi lebih fokus belajar karena asupan gizinya terjamin dan mengurangi kebiasaan jajan sembarangan,” katanya.
Petani Lokal Jadi Pahlawan Pangan
Sebagai lumbung pangan nasional, potensi pertanian Lampung dimanfaatkan secara optimal.
Data produksi padi di Lampung Timur yang mencapai 482 ribu ton (2024) dan jagung di Lampung Selatan lebih dari 816 ribu ton menjadi pilar utama pasokan bahan baku program MBG.
Suyatno, seorang petani jagung di Natar, mengaku merasakan manfaat langsung dari kebijakan ini.
Ia tidak lagi khawatir hasil panennya sulit terjual atau dihargai rendah.
“Dulu hasil panen sering susah laku. Sekarang lebih tenang karena ada kepastian pembelian untuk program makan bergizi. Kami merasa dihargai,” ungkapnya.
Dengan menyatukan visi pemerintah, kesigapan aparat daerah, partisipasi masyarakat, serta kekuatan sektor pertanian, Program Makan Bergizi Gratis di Lampung telah bertransformasi dari sekadar program sosial menjadi sebuah gerakan pembangunan holistik yang menyehatkan generasi dan menyejahterakan rakyat.
Baca juga : Badan Gizi Nasional Resmi Dibentuk, Ini Tugas dan Fungsinya
