Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: NTP Lampung Naik ke 129,90: Sinyal Kesejahteraan Petani Membaik.
NTP Lampung Naik ke 129,90: Sinyal Kesejahteraan Petani Membaik
Oleh: Mahendra Utama*
Kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian Lampung. Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) provinsi Lampung pada Juni 2026 tercatat sebesar 129,90, naik 1,48% dibanding Mei 2026 yang berada di level 128,01.
Kenaikan NTP merupakan indikator penting bahwa daya beli petani membaik, karena kenaikan harga hasil panen lebih besar dibandingkan peningkatan biaya produksi dan konsumsi yang mereka keluarkan.
Karet dan Kopi Jadi Motor Utama Penggerak NTP
Kenaikan NTP terutama didorong oleh peningkatan harga komoditas perkebunan. BPS mencatat komoditas karet, ketela pohon, dan kopi menjadi motor utama kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It).
Pada Juni 2026, It naik 2,16% menjadi 168,94, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,67% menjadi 130,05. Perbedaan laju kenaikan kedua indeks inilah yang membuat NTP kembali menguat.
Subsektor Tanaman Pangan dan Perkebunan Rakyat Tumbuh Positif
Berdasarkan subsektor, tanaman pangan menjadi sektor dengan kenaikan NTP tertinggi. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) naik 2,40% dari 107,43 menjadi 110,01.
Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat juga menunjukkan kinerja positif, meningkat 2,08% menjadi 162,34.
Kinerja ini memperlihatkan komoditas perkebunan masih menjadi penopang utama ekonomi pertanian di Provinsi Lampung.
Tiga Subsektor Alami Koreksi, Pemerintah Perlu Perhatikan
Meskipun terjadi kenaikan secara keseluruhan, beberapa subsektor justru mengalami penurunan. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) turun 2,23% menjadi 99,28. Subsektor Hortikultura turun 2,34% menjadi 134,45.
Sementara Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) terkoreksi 2,91% menjadi 101,15, dipengaruhi melemahnya Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya yang turun lebih dalam hingga 4,17%.
Hilirisasi Kunci Keberlanjutan Kesejahteraan Petani
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, telah lama menyuarakan pentingnya hilirisasi sektor pertanian.
Saat mengukuhkan pengurus KTNA Lampung, ia menyatakan, “Komoditasnya tumbuh, tetapi petaninya tetap miskin. Ini yang harus kita benahi. Pemerintah tidak boleh hanya menyuruh petani menanam, tetapi harus memastikan petani bisa hidup layak dari hasil tanamannya.”
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan Lampung harus dimulai dari desa dengan keberpihakan nyata kepada petani.
Gubernur Mirza meyakini hilirisasi sebagai jawaban. Dalam Musprov VIII Apindo Lampung, ia mengajak dunia usaha memperkuat hilirisasi sektor pertanian agar memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat.
“Kalau ekonomi desa tumbuh, daya beli masyarakat meningkat, konsumsi naik, dan pada akhirnya akan menciptakan pasar yang lebih besar bagi dunia usaha,” katanya.
Pemprov Lampung pun bergerak. Program pupuk organik cair gratis ditargetkan menjangkau satu juta hektare lahan pada 2026 dan diklaim mampu meningkatkan produktivitas hingga 10–15%.
Fasilitas pengering (dryer) juga disalurkan di tingkat desa agar petani tak lagi menjual hasil panen basah dengan harga murah.
Kenaikan NTP Juni 2026 adalah kabar baik, namun perjalanan masih panjang. Tiga subsektor yang terkoreksi mengingatkan bahwa kesejahteraan petani tak hanya soal harga komoditas, tetapi juga keberanian melakukan transformasi struktural.
Hilirisasi, akses pembiayaan, dan teknologi pascapanen adalah keniscayaan agar NTP tak sekadar angka, melainkan cerminan nyata kesejahteraan petani Lampung. (*)
——————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
