Lappung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal membeberkan potensi ekonomi raksasa yang belum tergarap di provinsinya.
Di hadapan investor nasional dan duta besar negara sahabat, ia menyebut ada potensi hilirisasi sektor pertanian senilai Rp130 triliun yang masih menganggur dan terbuka lebar untuk investasi.
Baca juga : Hilirisasi Bangun Lampung Emas
Ajakan ini disampaikan langsung oleh Gubernur Mirza dalam forum bergengsi Lampung Economic and Investment Forum (LEIF) 2025, yang digelar di Ballroom Pulmann Jakarta, kemarin.
“Yang membedakan Lampung adalah pertumbuhan ekonominya ditopang pertanian, bukan industri atau energi,” ujar Mirza dalam paparannya, dikutip pada Rabu, 5 November 2025.
Ia merinci, sektor pertanian dan perkebunan menyumbang PDRB senilai Rp150 triliun.
Namun, ia menyoroti fakta tajam bahwa dari angka tersebut, baru sekitar Rp20 triliun yang diolah di dalam provinsi.
“Artinya, potensi hilirisasi masih terbuka sangat lebar. Ini adalah peluang emas,” tegas Gubernur.
Forum LEIF 2025, yang bertema Explore the Potential: Lampung Investment Opportunities for Sustainable Growth, merupakan kolaborasi Pemprov Lampung dengan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung.
Acara ini dirancang sebagai etalase strategis untuk menarik modal nasional dan internasional.
Untuk meyakinkan investor, Gubernur Mirza memberikan 3 jaminan utama.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi investor dengan jaminan keamanan, infrastruktur yang siap, dan tenaga kerja yang melimpah,” paparnya, didampingi Wakil Gubernur Jihan Nurlela.
Baca juga : Kementan Kucurkan Rp180 Miliar, Lampung Jadi Target Utama Hilirisasi Pangan
Mirza juga memaparkan deretan komoditas unggulan yang siap di hilirisasi.
Lampung saat ini merupakan produsen singkong terbesar nasional (60-70 persen produksi RI) dan salah satu yang terbesar di dunia.
Provinsi ini juga pemasok utama beras (peringkat 5 nasional) dan jagung (peringkat 3 nasional).
Di sektor perkebunan, Lampung menyumbang 70 persen ekspor kopi robusta Indonesia.
Namun, Mirza menyayangkan sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah (green bean).
“Ke depan kami akan dorong ekspor produk olahan seperti kopi bubuk dan tasting coffee untuk meningkatkan nilai tambah,” katanya.
Tak hanya agroindustri, Lampung juga menawarkan peluang di sektor energi terbarukan.
Mirza mengungkap proyek ambisius yang sedang berjalan.
“Kami baru saja memulai pembangunan green hydrogen dari panas bumi, yang merupakan proyek pertama di dunia,” ungkapnya, seraya menyebut potensi besar bioetanol, energi angin, dan floating solar panel di 3 bendungan besar.
Gubernur menjelaskan bahwa Lampung didukung konektivitas prima, mulai dari Tol Trans Sumatera, jalur kereta api, 3 bandara, hingga pelabuhan berstandar internasional dengan kedalaman minus 25 meter.
Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi nilai jual.
Sebanyak 71 persen penduduk Lampung berusia produktif dengan Upah Minimum Regional (UMR) yang kompetitif, sekitar Rp2,3 juta per bulan.
“Tenaga kerja kami mudah dilatih, banyak lulusan SMK serta universitas yang relevan dengan industri,” tambahnya.
Kepercayaan investor terbukti terus meningkat. Pada tahun 2025, nilai investasi di Lampung tercatat mencapai Rp12,95 triliun, melonjak 30 persen dari tahun sebelumnya.
Singapura, Korea Selatan, Malaysia, Australia, dan Tiongkok menjadi investor utama.
Gubernur Mirza menutup paparannya dengan visi kolaborasi, menegaskan bahwa pemerintah akan menjadi mitra strategis dunia usaha.
“Kami sepakat, yang harus berada di garis depan pertumbuhan ekonomi adalah pelaku usaha.
“Pemerintah akan memastikan investasi di Lampung tumbuh cepat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca juga : Temui Menperin, Lampung Dorong Status Prioritas Nasional untuk Hilirisasi Pangan
