Lappung – Puisi “Serat Tanah dan Rasa” karya Mahendra Utama ini merupakan sebuah lukisan kontras yang mendalam tentang dua wajah Jawa Timur, yaitu Jombang dan Sidoarjo.
Pada bagian awal, Jombang digambarkan sebagai representasi kedamaian, spiritualitas, dan keindahan alam yang tradisional.
Baca juga : Puisi untuk Dony Oskaria
Citraan seperti “pesantren bertaut doa”, “Sungai Brantas”, dan “air terjun Tretes” membangun suasana yang tenang dan religius.
Unsur-unsur kuliner seperti nasi pecel dan sate kambing tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, tetapi juga sebagai simbol kehangatan, kebersamaan, dan budaya yang mengakar.
Bagian ini melukiskan potret tanah air yang ideal, damai, dan penuh dengan nilai-nilai luhur.
Paragraf kedua mengalihkan fokus pada Sidoarjo dan menyajikan sebuah realitas yang bertolak belakang.
Sidoarjo digambarkan sebagai pusat industri yang keras, ditandai dengan “pabrik-pabrik menjulang”, “awan kelabu”, dan “denyut keringat manusia”.
Puisi ini juga secara gamblang menyebut tragedi “Lumpur Lapindo” yang membawa kepiluan.
Namun, di tengah perjuangan dan kesedihan tersebut, penyair menyoroti semangat juang dan ketahanan masyarakatnya.
Keberadaan kuliner seperti sate kerang dan bandeng presto yang “tetap bertahan” menjadi metafora perlawanan dan keberanian dalam menghadapi nestapa.
Baca juga : Puisi Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi, Karya Singo Geni
Pada akhirnya, puisi ini menjadi sebuah pesan atau “bekal” untuk Andre Abdullah, seorang perantau, agar ia membawa serta suara tanah airnya yang terdiri dari kedamaian Jombang dan perjuangan Sidoarjo sebagai wujud bakti, harapan, dan pengingat akan identitasnya di mana pun ia berada.
Serat Tanah dan Rasa: Untuk Andre Abdullah
Di Jombang, senja menyapu lereng gunung,
Pesantren bertaut doa, langit pun biru terunggu;
Sungai Brantas mengalun kisah lama,
Di setiap liku, nasi pecel menari dalam daun pisang.
Sate kambing merekah di angkringan,
Dibumbui cinta yang hangat dan santun;
Air terjun Tretes berbisik lembut,
Mengundang jiwa yang rindu akan selawat.
Namun tak jauh, di Sidoarjo yang berdebu,
Pabrik-pabrik menjulang, menggapai awan kelabu;
Sate kerang dan kerupuk udang tetap bertahan,
Di antara cerobong asap dan denyut keringat manusia.
Lumpur Lapindo menggenang pilu,
Tapi getok tularkan tangan tetap berbuat;
Bandeng presto tetap digoreng harum,
Melawan nestapa dengan keberanian yang tumprung.
Wahai Andre, sang pengembara di Benua Selatan,
Bawalah suara tanah ini ke cakrawala yang lebih jauh;
Dari Jombang yang damai, Sidoarjo yang berjuang,
Kami persembahkan puisi rasa: bakti dan harapan.
Semoga langkahmu selalu dijaga langit,
Di mana pun bumi dipijak, Indonesia tetap dikenang.
Kelapa Gading, 21 Agustus 2025
Mahendra Utama
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
