Menurut Saiful, 16,5 persen suara Anies-Muhaimin mencerminkan kekuatan dua partai. Keduanya, bisa Nasdem dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), atau Nasdem dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Dengan demikian, kata Saiful, Anies tidak atau kurang memiliki pemilih independen. Sebab, pendukungnya hanya berasal dari partai-partai yang mendukungnya.
Baca juga : Disindir Bidah oleh Menag Yaqut. Cak Imin: Kembalikan ke Rakyat
Dilihat dari data sementara tersebut, Anies belum memberikan efek ekor jas atau coat-tail effect karena suara pendukungnya masih merupakan suara partai.
“Kalau menurun, saya tidak bisa bilang begitu. Tapi setidak-tidaknya (data ini menunjukkan) tidak meningkat. Ini reaksi publik beberapa hari setelah deklarasi Anies-Muhaimin,” jelas Saiful.
Adapun Anies dan Cak Imin, demikian sapaan akrab Muhaimin, resmi mendeklarasikan diri sebagai bakal capres dan bakal cawapres Koalisi Perubahan untuk Persatuan pada Sabtu, 2 September 2023.
Hingga kini, pasangan itu didukung oleh Partai Nasdem, PKB, dan PKS.
Survei SMRC: Ganjar-Ridwan Unggul
Sementara, PDI Perjuangan menjagokan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Pencapresan Ganjar juga didukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Hanura.
Ganjar sampai saat ini belum menentukan nama cawapres. Namun, sosok Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno santer disebut di bursa cawapres politikus PDIP itu.
Di sisi lain, Partai Gerindra hendak mencalonkan ketua umumnya, Prabowo Subianto. Prabowo didukung oleh Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB).
Prabowo juga belum mengumumkan calon pendampingnya.
Akan tetapi, sosok Erick Thohir digadang-gadang jadi calon RI-2 yang potensial mendampingi Menteri Pertahanan itu.
Hasil survei ini menjadi perbincangan hangat di kalangan politisi, pengamat politik, dan masyarakat umum.
Dengan elektabilitas yang semakin ketat di antara ketiga pasangan calon presiden ini, persaingan Pilpres tahun 2024 diprediksi akan menjadi salah satu yang paling sengit dalam sejarah politik Indonesia.
Survei SMRC ini juga menjadi pijakan bagi partai politik dan calon presiden dalam menyusun strategi kampanye mereka.
Dengan waktu yang semakin mendekati tanggal pemilihan, perubahan dan pergeseran dalam preferensi pemilih akan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Pilpres 2024 diharapkan menjadi kontestasi politik yang sehat dan demokratis.
Di mana pemilih memiliki akses yang lebih baik ke informasi dan pemahaman mendalam tentang visi dan misi setiap pasangan calon.
Dalam semangat demokrasi, masyarakat diharapkan memberikan suara mereka sesuai dengan keyakinan dan aspirasi masing-masing.
Baca juga : Tidak Ada Tawar Menawar! Prajurit TNI Netral di Pemilu 2024
