Lappung – Lada hitam Lampung, atau yang tersohor di pasar internasional sebagai Lampung Black Pepper, terus mengukuhkan posisinya sebagai Raja Rempah dari ujung selatan Sumatera.
Cita rasa pedas dan aroma khas yang tidak dimiliki daerah lain membuat komoditas ini menjadi primadona pasar global.
Baca juga : Terimbas Isu Cesium-137, 6 Eksportir Udang Lampung Dikenai Syarat Tambahan
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti betapa strategisnya posisi lada Lampung dalam peta perdagangan dunia.
Menurutnya, selama 5 tahun terakhir, ekspor lada Lampung menunjukkan konsistensi yang kuat dengan menyasar pasar-pasar besar yang vital.
“Kita bicara fakta lapangan. Lada kita bukan hanya sekadar komoditas, tapi penentu kualitas di pasar luar.
“Ada 5 negara yang secara konsisten menjadi tujuan utama ekspor lada Lampung,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Jumat, 28 November 2025.
Mahendra merinci kelima negara tersebut memiliki karakteristik permintaan yang berbeda namun saling melengkapi bagi ekosistem lada Lampung:
Vietnam: Negara ini menjadi importir dengan volume terbesar.
Mahendra mencatat fenomena menarik bahwa Vietnam sering menyerap lada Lampung untuk kemudian diekspor kembali (re-export) ke negara lain.
Amerika Serikat: Dikenal sebagai pasar premium yang sangat tradisional.
“Mereka sangat selektif, dan fakta bahwa mereka terus membeli membuktikan kualitas lada hitam kita diakui,” tambah Mahendra.
India: Negara dengan budaya konsumsi rempah yang tinggi ini menjadi tujuan ekspor yang sangat stabil bagi petani Lampung.
Jerman: Mahendra menyebut Jerman sebagai pintu gerbang strategis untuk menembus pasar Uni Eropa yang ketat standarnya.
China: Raksasa Asia ini memiliki permintaan masif, terutama untuk menopang industri makanan dan bumbu mereka yang besar.
Sentra Produksi
Dalam analisisnya, Mahendra juga memetakan wilayah-wilayah yang menjadi tulang punggung produksi Emas Hitam ini.
Baca juga : Ekspor Lampung 2025: Melampaui Target Nasional
Ia menyebut Lampung Utara sebagai sentra utama, baik dari sisi sejarah maupun volume produksi.
“Selain Lampung Utara, kita punya Lampung Timur yang sangat vital untuk produksi lada hitam, serta Waykanan yang kontribusinya makin signifikan.
“3 daerah ini adalah pilar utamanya,” jelas sosok yang dikenal kritis terhadap isu ekonomi kerakyatan ini.
Langkah Pemerintah
Meski pasar terbuka lebar, Mahendra mengingatkan bahwa daya saing harus terus dipacu.
Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung melalui dinas terkait yang dinilainya sudah on the track, namun perlu pengawalan ketat.
Mahendra menyoroti 3 program krusial yang harus terus digalakkan.
Pertama, program peremajaan tanaman dengan bibit unggul untuk mengganti tanaman tua yang sudah tidak produktif.
Kedua, sertifikasi mutu, khususnya Indikasi Geografis (IG).
“Sertifikasi IG untuk Lampung Black Pepper itu harga mati buat jaga reputasi dan nilai jual agar tidak diklaim pihak lain,” tegasnya.
Poin ketiga yang ditekankan Mahendra adalah penguatan kelembagaan petani.
Ia mendorong agar koperasi petani diperkuat sehingga memiliki kemampuan ekspor mandiri.
“Kalau koperasinya kuat, rantai pasok bisa dipotong. Petani bisa ekspor langsung tanpa banyak perantara, otomatis kesejahteraan mereka meningkat,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Penerimaan Bea Cukai Lampung Tembus Rp1,76 Triliun, Ekspor Kopi dan CPO Jadi Andalan





Lappung Media Network