Lappung – Kondisi kesejahteraan petani di Provinsi Lampung menunjukkan tren pelemahan pada pertengahan tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis data terbaru yang menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) selama Juli 2025 sebesar 125,15.
Baca juga : Beda Data BPN, BPS, Hingga DPR, Ukur ulang HGU SGC Jadi Kunci Bongkar Pajak
Angka ini turun 2,46 persen jika dibandingkan dengan NTP Juni 2025 yang berada di level 128,31.
Penurunan NTP, yang merupakan indikator utama daya beli atau kemampuan tukar produk pertanian dengan barang dan jasa lainnya, menandakan bahwa pendapatan petani secara relatif menurun dibandingkan dengan pengeluaran mereka.
Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam rilis resminya menjelaskan bahwa penurunan ini terjadi karena adanya tekanan dari dua sisi sekaligus.
“Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 2,07 persen, sementara di sisi lain Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik sebesar 0,41 persen,” sebut laporan tersebut, dikutip pada Minggu, 2 Agustus 2025.
Baca juga : Data BPS: Pengangguran Lampung Melandai Jadi 4,07 Persen, Perempuan Masih Tertinggal
Dengan kata lain, harga jual hasil panen petani mengalami penurunan, namun biaya untuk kebutuhan hidup dan biaya produksi justru mengalami kenaikan.
Kopi dan Sapi
Jika dibedah lebih dalam, penurunan NTP pada Juli 2025 dipengaruhi oleh anjloknya NTP pada beberapa subsektor pertanian vital di Lampung.
Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) mengalami penurunan paling tajam, yaitu sebesar 6,54 persen.
Pemicu utamanya adalah jatuhnya harga komoditas kopi yang pasokannya melimpah akibat musim panen di berbagai daerah.
Selain itu, 2 subsektor lain yang turut menekan NTP adalah:
- Subsektor Peternakan (NTPT), yang turun 0,85 persen akibat menurunnya harga komoditas sapi potong setelah permintaan berkurang pasca momen tertentu.
- Subsektor Perikanan Budidaya (NTPi), yang juga terkoreksi 0,82 persen, terutama didorong oleh melimpahnya pasokan udang payau yang memasuki musim panen.
Baca juga : BPS: Suku Batak dan Minangkabau Ungguli Pendidikan Sarjana di Indonesia
Meskipun secara umum daya beli petani melemah, tidak semua subsektor mengalami nasib serupa.
Beberapa komoditas justru menunjukkan performa positif dan menahan laju penurunan NTP lebih dalam.
Subsektor Tanaman Hortikultura (NTPH) menjadi primadona dengan lonjakan NTP tertinggi, yaitu sebesar 5,80 persen.
Kenaikan ini dipicu oleh naiknya harga komoditas tomat akibat ketersediaan pasokan yang menipis.
Subsektor lain yang mencatatkan hasil positif antara lain:
- Subsektor Tanaman Pangan (NTPP), naik 1,57 persen. Faktor utamanya adalah kenaikan harga gabah seiring berakhirnya musim panen raya yang membuat stok berkurang.
- Subsektor Perikanan Tangkap (NTN), naik 1,31 persen. Kenaikan ini didukung oleh meningkatnya harga komoditas rajungan karena pasokan yang sedikit di luar musim panen.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan dinamika yang kontras di sektor pertanian Lampung, di mana petani perkebunan dan peternakan menghadapi tekanan berat, sementara petani pangan dan hortikultura masih bisa sedikit bernapas lega pada Juli 2025.
Baca juga : BPS: Anak Lampung Cuma Lulus SMA





Lappung Media Network