Lappung – Menjelang pergantian tahun 2025, Provinsi Lampung mencatatkan tren positif dalam pengendalian harga pangan, khususnya komoditas cabai merah.
Stabilitas harga di pasaran ini dinilai sebagai buah manis dari strategi pengendalian inflasi yang diterapkan Pemerintah Provinsi Lampung.
Baca juga : Orkestrasi Gubernur Lampung Jaga Stabilisasi Harga Cabai
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memberikan apresiasi khusus terhadap kinerja Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung di bawah komando Zimmi Skil.
Menurutnya, pemerintah daerah berhasil meredam gejolak harga yang biasanya menggila di akhir tahun.
“Kita tahu Desember biasanya jadi bulan yang rawan bagi dompet rakyat karena harga pangan naik. Tapi, di penghujung 2025 ini, kita melihat harga cabai cukup terkendali.
“Ini indikasi bahwa koordinasi kebijakan Gubernur dan eksekusi lapangan oleh Disperindag berjalan solid,” ujar Mahendra Utama di Bandarlampung, Rabu, 31 Desember 2025.
Intervensi Pasar
Mahendra menyoroti bahwa keberhasilan ini bukan kebetulan.
Cabai merah kerap menjadi penyumbang utama inflasi kelompok makanan (volatile food) karena sifatnya yang bergantung musim.
Saat panen raya harga anjlok, namun saat paceklik harga melambung karena pasokan menipis.
Ketidakseimbangan supply dan demand inilah yang menurut Mahendra berhasil diantisipasi oleh Pemprov Lampung melalui Disperindag.
“Langkah Kadis Perindag, Zimmi Skil, dalam menerjemahkan arahan Gubernur sangat krusial. Mereka tidak hanya memantau angka, tapi melakukan intervensi konkret.
Baca juga : Kilau Emas dan Pedasnya Cabai Merah Picu Inflasi Lampung November 2025
“Ada upaya serius untuk memangkas jalur distribusi yang selama ini terlalu panjang,” jelas Mahendra.
Berdasarkan pengamatannya, Disperindag sukses mengintegrasikan informasi ketersediaan stok dari sentra produksi utama seperti Lampung Selatan, Pringsewu, dan Lampung Barat.
Hal ini mencegah terjadinya disparitas (kesenjangan) harga yang ekstrem antar-daerah di Lampung.
Logistik dan Kesejahteraan Petani
Lebih lanjut, Mahendra menilai strategi pemangkasan rantai pasok ini memberikan dampak ganda (multiplier effect).
Di satu sisi, konsumen mendapatkan harga yang wajar, namun di sisi lain, margin keuntungan di tingkat petani tetap terjaga.
“Kuncinya ada di logistik. Cabai ini barang mudah rusak.
“Dengan pengelolaan transportasi dan penyimpanan yang lebih baik yang dilakukan Disperindag, risiko kerugian ditekan. Petani untung, masyarakat tidak menjerit,” tambahnya.
Mahendra pun berharap stabilitas ini bukan sekadar prestasi sesaat di akhir 2025.
Ia mendorong agar pola koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha ini dijadikan standar baku (SOP) untuk tahun-tahun mendatang.
“Stabilitas harga adalah fondasi ekonomi. Jika ini terus dijaga, Lampung akan semakin tangguh menghadapi gejolak ekonomi dan petani kita semakin sejahtera sebagai tulang punggung ketahanan pangan,” pungkas Mahendra.
Baca juga : 5 Sentra Cabai Lampung





Lappung Media Network