Lappung – Citra Provinsi Lampung sebagai sekadar “Gerbang Sumatera” dan penyedia bahan mentah dinilai mulai bergeser.
Sepanjang tahun 2025, provinsi ini menunjukkan tren positif dalam transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri dan keseriusan dalam transisi energi hijau.
Baca juga : Hilirisasi Industri 2024-2025: Angka Gemilang, Tantangan Nyata
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti pertumbuhan signifikan di sektor industri pengolahan yang mencapai 9,37 persen pada semester pertama 2025.
Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa strategi nilai tambah komoditas lokal mulai berjalan efektif.
“Lampung diam-diam berubah dalam 5 tahun terakhir. Kita tidak lagi hanya bicara soal kirim singkong, kopi, atau sawit mentah ke luar.
“Sekarang investor melirik Lampung karena ekosistem industrinya mulai terbentuk, bukan cuma karena tanah murah,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Selasa, 6 Januari 2026.
Investasi
Klaim tersebut didukung oleh data realisasi investasi.
Hingga Triwulan III 2025, investasi yang masuk ke Lampung tercatat menembus Rp12,95 triliun.
Angka itu setara dengan 120 persen dari target yang ditetapkan pemerintah daerah.
Mahendra menilai kebijakan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang menekankan larangan ekspor bahan mentah menjadi katalis utama lonjakan.
Meski demikian, Mahendra memberikan catatan kritis agar industrialisasi ini tidak menjadi bumerang.
“Hati-hati, industrialisasi tanpa kolaborasi hanya akan memperlebar ketimpangan. Yang kaya makin kaya, yang bawah tertinggal,” tegasnya.
Mahendra juga menekankan peran vital asosiasi pengusaha seperti Kadin, APINDO, dan HIPMI untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Ia menyoroti 3 poin krusial yang harus dikawal:
Pendidikan Vokasi: Harus selaras (link and match) dengan kebutuhan pabrik agar bonus demografi tidak menjadi bencana pengangguran karena ketidakcocokan keahlian.
Pelibatan UMKM: Tidak sekadar menjadi objek CSR seremonial, tetapi masuk secara nyata ke dalam rantai pasok industri.
Upah Layak: Murahnya tenaga kerja tidak boleh lagi dijadikan alat jualan utama untuk menarik investor.
“Itu bukan daya saing, itu eksploitasi,” cetus Mahendra.
Baca juga : Emas Hijau Lampung: Saatnya Tarik Investasi Hilirisasi Kelapa dan Tembus Pasar China
Sejauh ini, dampak positif mulai dirasakan dengan serapan bahan baku lokal yang mencapai 75 persen, yang turut berkontribusi pada penurunan kemiskinan ekstrem hingga 0,90 persen di tahun 2024.
Di balik optimisme tersebut, Mahendra mengingatkan adanya satu hambatan besar yang bisa menjegal laju hilirisasi, ketersediaan energi.
Lampung diperkirakan menghadapi defisit listrik hingga 500 MW.
“Hilirisasi butuh energi besar. Kalau defisit ini tidak dibereskan, industri akan mandek di tengah jalan,” analisisnya.
Oleh karena itu, rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah waduk strategis seperti Batutegi dan Margatiga dinilai sangat krusial.
Menurut Mahendra, langkah ini bukan hanya soal menambah pasokan daya, tetapi juga menentukan arah masa depan industri Lampung yang lebih ramah lingkungan.
“Ini tentang pilihan, mau industri yang terus-menerus berasap atau mulai hijau?
“Jika hilirisasi, kolaborasi, dan energi terbarukan ini jalan beriringan, industri Lampung bisa menjadi mesin kesejahteraan nyata, bukan sekadar angka cantik di atas kertas,” tutup Mahendra.
Baca juga : Hilirisasi Bangun Lampung Emas





Lappung Media Network