Lappung – Aksi kreator konten asal Inggris, Bonnie Blue (Tia Emma Billinger), yang melecehkan bendera Merah Putih di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London menuai kecaman keras.
Tindakan tersebut dinilai bukan sekadar ekspresi kebebasan berpendapat, melainkan penghinaan langsung terhadap identitas bangsa.
Baca juga : Festival Kreasi Inklusi Indonesia 2025: Dukung Hak Disabilitas
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyoroti tajam insiden yang terjadi pada 15 Desember lalu tersebut.
Menurutnya, tindakan menyelipkan bendera nasional di saku celana bagian belakang adalah bentuk provokasi yang tidak bisa ditoleransi atas nama seni maupun konten media sosial.
“Jujur, perasaannya campur aduk melihat video itu. Ini bukan cuma soal konten yang sok edgy atau provokasi murahan.
“Yang dia lakukan itu benar-benar melewati garis, sebuah penghinaan telanjang terhadap simbol kedaulatan kita,” tegas Mahendra dalam keterangannya, Sabtu, 27 Desember 2025.
Mahendra mengingatkan bahwa bagi bangsa Indonesia, Merah Putih memiliki makna sakral yang melampaui sekadar selembar kain.
Di balik dwiwarna tersebut, terdapat sejarah panjang perjuangan kemerdekaan.
“Kita semua tahu, di balik warna itu ada darah dan air mata para pahlawan, ada mimpi kemerdekaan, dan ada identitas 280 juta jiwa rakyat Indonesia,” imbuhnya.
Terkait respons pemerintah, Mahendra mengapresiasi langkah cepat KBRI London yang langsung melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian setempat dan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Inggris (FCDO).
Langkah diplomatik dan hukum dinilai sebagai jalur yang paling tepat untuk menjaga marwah negara.
“Memang proses hukum memakan waktu, tapi setidaknya ada pernyataan resmi bahwa kita tidak diam saja saat simbol negara diinjak-injak,” ujar Mahendra.
Imbau Masyarakat Tetap Elegan
Seperti diketahui, viralnya video tersebut memicu gelombang kemarahan warganet (netizen) Indonesia.
Baca juga : Hilirisasi Edamame Indonesia: Dari Lahan ke Pasar Global
Kolom komentar media sosial dipenuhi seruan mass report hingga hujatan kepada sang kreator.
Menyikapi hal ini, Mahendra mengajak publik untuk tetap berkepala dingin dan tidak terprovokasi secara membabi buta.
Ia menekankan agar kemarahan publik tidak meluas menjadi kebencian terhadap negara Inggris secara umum.
Publik diminta dewasa memisahkan perilaku individu oknum dengan hubungan antarnegara.
“Kemarahan ini sangat bisa dipahami. Tapi Kemlu sudah mengingatkan untuk tetap tenang. Cara kita merespons mencerminkan siapa kita sebagai bangsa.
“Jangan sampai terjebak dalam spiral kemarahan yang ujung-ujungnya merugikan kita sendiri,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Mahendra mengajak masyarakat menjadikan momen ini sebagai refleksi nasionalisme.
Menurutnya, pembelaan terbaik terhadap simbol negara adalah melalui prestasi dan kontribusi nyata, bukan sekadar kata-kata kasar di dunia maya.
“Kita harus cukup dewasa. Menyalurkan kekecewaan itu wajar, tapi membenci satu negara karena ulah oknum justru merendahkan martabat kita.
“Mari jadikan ini momentum untuk mengingat kembali makna Merah Putih bagi kita,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Nasib Hubungan Indonesia–Jepang di Tangan Sanae Takaichi





Lappung Media Network