Lappung – Puisi “Di Bawah Langit Pasirlangu” adalah sebuah ratapan mendalam atas bencana alam (longsor dan banjir bandang) yang melanda kawasan dataran tinggi Jawa Barat seperti Ciwidey, Pangalengan, dan Cisarua pada Januari 2026.
Karya ini bukan sekadar berita duka, melainkan kritik sosial dan ekologis yang tajam.
Baca juga : Selayar Rasa di Empat Perhentian, Karya: Mahendra Utama
Penulis menyoroti pergeseran fungsi lahan yang drastis, di mana perkebunan teh yang berfungsi sebagai jangkar ekologis penahan air telah tergerus oleh ambisi ekonomi, berubah menjadi ladang sayur dan destinasi wisata yang tidak memperhatikan daya dukung tanah.
Alam digambarkan murka bukan karena kejahatan, melainkan sebagai konsekuensi logis dari hilangnya keseimbangan yang dipaksakan oleh manusia.
Di sisi lain, puisi ini juga merupakan manifestasi dari spiritualitas dan kearifan lokal (Sundanese wisdom) dalam menghadapi musibah.
Penulis memadukan doa-doa Islam yang memohon ampunan dan keselamatan dengan pepatah leluhur Sunda (karuhun) yang mengingatkan manusia untuk tidak serakah (ulah ngala kareueut…).
Ada panggilan kuat untuk kepemimpinan yang empatik, disimbolkan dengan sosok “Kang Dedi” dan semangat Salus populi suprema lex (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi) serta ajakan kolektif untuk melakukan pemulihan (reforestasi) dengan menanam kembali bambu dan teh, bukan sekadar membangun beton.
Intinya, puisi ini adalah seruan untuk pulang pada kesadaran bahwa tanah adalah titipan Tuhan yang harus dijaga, bukan sekadar komoditas untuk dieksploitasi.
Baca juga : Di Bawah Langit Merah Kemakmuran, Karya: Mahendra Utama
DI BAWAH LANGIT PASIRLANGU
Sebuah Refleksi Januari 2026
Karya: Mahendra Utama
Januari datang membawa kabar yang basah,
Bukan sekadar rintik yang menyapa jendela,
Tapi murka langit yang jatuh di lereng-lereng tua.
Di Ciwidey, Pangalengan, hingga sunyinya Cisarua,
Tanah yang kita puji kesuburannya,
Tiba-tiba bergerak, mencari ruang yang hilang.
Innalillahi wa innailaihi raji’un,
Kepada-Mu kami kembali, ya Rahman,
Dalam duka yang meremas dada ini.
Kita melihat akar teh yang lelah,
Jangkar ekologis yang perlahan tanggal,
Berganti sayur-mayur dan hiruk-pikuk wisata.
Niatnya mulia: menyambung napas ekonomi,
Namun alam punya hitungan yang tak bisa ditawar,
Ia bicara dalam bahasa longsoran yang getir.
“Ulah ngala kareueut, ngarah kabeukbeuk,”
Jangan mencari yang jauh, yang dekat pun tercabut.
Pepatah karuhun kini menjadi tangis nyata.
Duka ini adalah luka kita semua.
Kepada keluarga yang kehilangan atap dan pelukan,
Kepada mereka yang ladangnya tertimbun senyap,
Kami bersimpuh dalam empati yang dalam.
Allahumma-ghfirlana warhamna wa’afina,
Ya Allah, ampunilah kami, kasihanilah,
Dan berikanlah keselamatan bagi yang tersisa.
Negara hadir bukan sekadar angka kompensasi,
Tapi sebagai sandaran di tengah badai yang belum usai.
Ingatkah kita pada peringatan itu?
Suara dari puncak Gedung Sate yang pernah menggema,
“Teh bukan sekadar daun, ia adalah penahan napas bumi.”
Kang Dedi menyusuri lereng dengan hati yang perih,
Menyentuh tanah yang terluka, memastikan nyawa tak sia-sia.
Sebab di atas segala aturan dan pasal-pasal,
“Salus populi suprema lex,”
Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.
“Kudu silih asah, silih asih, silih asuh,”
Saling mengasah pikiran, mengasihi sesama, mengasuh bumi.
Inilah jalan yang harus kita jaga kembali.
Kini, di sisa lumpur yang mulai mengering,
Ada janji yang harus kita tanam kembali.
Bukan sekadar beton, tapi akar bambu dan teh,
Bukan sekadar audit, tapi kepedulian pada batas.
Karena tanah ini adalah titipan, bukan sekadar komoditas.
Rabbana atina fid-dunya hasanah,
Wa fil-akhirati hasanah,
Waqina ‘adzaban-nar.
Ya Rabb, berikanlah kebaikan di dunia ini,
Kebaikan di akhirat kelak,
Dan lindungilah kami dari siksa api.
Mari kita dengar bisikan bumi Pasundan,
Ia sedang meminta kita untuk pulang,
Menata ruang dengan hati, menjaga lereng dengan bakti.
“Lain lubak lain bitis, lain padang lain ilalang,”
Setiap tempat punya takarannya sendiri,
Jangan paksa lereng untuk jadi pasar, jangan paksa gunung untuk diam.
Sebab ketika alam mulai bicara dengan keras,
Hanya kebersamaan yang bisa membasuh luka ini.
Allahumma-j’alna min ash-shabirin,
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar,
Yang bangkit dari reruntuhan dengan iman yang teguh.
Pasirlangu, Ciwidey, Pangalengan, Cisarua
Nama-nama yang kini terukir dalam doa malam kami.
Semoga hujan yang turun esok adalah rahmat,
Bukan lagi tangis langit yang murka.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
Baca juga : Doa untuk Tanah Rencong dan Serambi Melayu, Karya: Mahendra Utama





Lappung Media Network