Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Gerhana di Bandar Lampung

    Gerhana di Bandar Lampung

    by Irzon Dwi Darma
    08/09/2025
    in Gaya Hidup
    Gerhana di Bandar Lampung

    Mahendra Utama. Foto: Arsip pribadi

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Puisi Gerhana di Bandar Lampung karya Mahendra Utama ini menggambarkan 2 lapisan makna yang saling terkait.

    Lapisan pertama adalah penggambaran suasana Kota Bandar Lampung saat terjadi gerhana bulan.

    Baca juga : 1 September di Lampung

    Penulis dengan apik melukiskan suasana kota yang hening, dengan pemandangan bukit dan Teluk Lampung sebagai saksi bisu fenomena alam tersebut.

    Peristiwa langit ini tidak digambarkan secara terpisah, melainkan dihubungkan dengan kehidupan masyarakat lokal, seperti para nelayan yang menatap bulan dengan penuh harapan.

    Ini menciptakan sebuah gambaran yang utuh, di mana alam dan manusia menyatu dalam satu momen kontemplatif.

    Pada lapisan kedua yang lebih dalam, puisi ini menggunakan gerhana sebagai metafora untuk sebuah jeda atau ujian dalam hubungan cinta.

    Sang penyair (Aku) merasakan koneksi batin dengan seseorang yang dicintainya, seolah keduanya berbagi perasaan yang sama saat menatap langit.

    Gerhana yang bersifat sementara diibaratkan seperti tantangan dalam cinta yang pada akhirnya akan berlalu dan kembali bersinar.

    Baca juga : Aku Terus Menorehkan Kata

    Puncak dari puisi ini adalah sebuah ode untuk kota kelahiran, Bandar Lampung, yang bukan sekadar menjadi latar tempat, melainkan bagian tak terpisahkan dari kisah cinta itu sendiri.

    Lanskap kota seperti bukit dan laut menjadi simbol pelukan dan kesetiaan, menjadikan momen gerhana sebagai rekaman abadi dari perasaan cinta dan kerinduan.

    Gerhana di Bandar Lampung

     

    Minggu malam, bulan merunduk di langit

    Bandar Lampung berbalut selimut sunyi,

    bukit-bukit berdiri bagai penjaga setia,

    menyaksikan cahaya rembulan

    pelan-pelan dilahap bayangan semesta.

     

    Di Teluk Lampung, ombak berbisik lirih,

    perahu-perahu berlabuh dengan doa,

    dan pelabuhan, denyut nadi ekonomi

    berkelindan dengan harapan nelayan

    yang menatap bulan—

    sebelum ia sembunyi di balik rahasia gelap.

     

    Aku mendengar suaramu di kejauhan,

    bukan dari bibir,

    melainkan dari getar yang sama

    saat kita menengadah ke langit.

    Gerhana hanyalah jeda,

    seperti cinta yang diuji waktu,

    namun selalu kembali bersinar.

     

    Oh kota kelahiranku,

    engkau bukan hanya tanah dan laut,

    engkau adalah hati yang menampung

    seluruh kerinduan—

    bukitmu mengingatkan pada pelukan,

    lautmu mengajarkan kesetiaan,

    dan bulan malam ini,

    merekam kisah cinta kita

    dalam diam yang abadi.

     

    Telukbetung

    7 September 2025

     

    Mahendra Utama

    Baca juga : Untuk Affan Kurniawan, Yang Terbaring di Aspal Jakarta

    Tags: Bandar LampungBudayaGerhana BulanGerhana di Bandar LampungKarya Sastra.LampungMahendra UtamaPuisiPuisi CintaPuisi KerinduanSajakSastraSastra LampungTelukbetung
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Beraksi Saat Warga Salat, Pencuri Sikat Motor Jurnalis di Lampung Timur

    Next Post

    Tembus Rp266 Miliar, Kualitas Kopi Lampung untuk Pasar Jepang Dikawal Ketat Karantina

    Related Posts

    Gaya Hidup

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    11/03/2026
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sering Sebut Galer? Selamat, Istilahmu Kini Resmi Masuk KBBI

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kakanwil BPN Sumsel Sambangi Kantah Banyuasin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Selamat Tinggal Tiket Manual, ASDP Targetkan 100 Persen Digital Oktober Ini

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kantor Pertanahan Banyuasin Kobarkan Gerakan Gemapatas 2025

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mayjen Kristomei Sianturi, Putra Kotabumi Lampung, Jabat Pangdam Radin Inten

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    Exit mobile version