Lappung – Harga tetes tebu (molasses) di tingkat produsen anjlok drastis hingga menyentuh level Rp700 per kilogram, titik terendah dalam satu dekade terakhir.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku industri gula dan para petani tebu di Lampung, mengancam keberlangsungan operasional pabrik dan sumber pendapatan ribuan keluarga.
Baca juga : Menyulam Harapan: Sinergi Kebijakan untuk Lampung Sehat dan Mandiri
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa kejatuhan harga ini menjadi pukulan telak bagi seluruh rantai pasok industri tebu nasional.
Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh serbuan produk impor dan lemahnya penyerapan di pasar domestik.
“Ini adalah kabar yang menyesakkan. Di balik angka Rp700 per kilogram itu, ada jerih payah petani dan nasib ribuan pekerja pabrik gula yang dipertaruhkan,” ujar Mahendra Utama, Minggu, 21 September 2025.
Ia menjelaskan, harga ideal tetes tebu sebelumnya stabil di kisaran Rp2.500 per kilogram.
Angka tersebut dinilai mampu memberikan keuntungan yang layak bagi produsen dan petani.
Namun, tekanan pasar saat ini telah menjerumuskan harga ke level yang tidak sehat secara ekonomi.
“Jika tetes tebu ini tidak segera terserap pasar, pabrik gula terancam berhenti beroperasi karena tangki penyimpanan akan penuh.
“Konsekuensinya, tebu dari petani tidak bisa digiling, dan mereka akan kehilangan penopang hidupnya,” tegas Mahendra.
Anjloknya harga ini menimbulkan efek domino yang mengkhawatirkan.
Pabrik gula kehilangan salah satu sumber pendapatan penting dari produk sampingan, sementara petani tebu dihadapkan pada potensi kerugian besar jika pabrik mengurangi atau menghentikan pembelian tebu.
Baca juga : Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera
Menanggapi krisis ini, Mahendra mendorong adanya langkah cepat dan sinergi antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan.
Menurutnya, beberapa solusi mendesak perlu segera diimplementasikan untuk menyelamatkan industri.
“Pemerintah harus mulai merajut jalan keluar, mulai dari pengendalian impor yang lebih ketat, penguatan regulasi tata niaga, hingga opsi penyerapan stok oleh BUMN sebagai langkah jangka pendek,” paparnya.
Mahendra menekankan bahwa krisis ini harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap kemandirian pangan nasional.
Menurutnya, keberpihakan kebijakan pada produksi dalam negeri adalah kunci untuk mengembalikan harga tetes tebu ke titik keseimbangan yang wajar.
“Ini bukan sekadar urusan bisnis, tetapi menyangkut denyut kehidupan banyak keluarga.
“Seperti pepatah Lampung, Sai bumi ruwa jurai, kebersamaanlah yang akan menjaga ekosistem ini tetap hidup dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca juga : Menyambut Langkah Agresif Jawa Timur: Saatnya Lampung Bangkit Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
