Lappung – Pemerintah Kota Bandarlampung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara distribusi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari salah satu dapur penyedia.
Keputusan ini merupakan buntut dari insiden dugaan keracunan massal yang menyebabkan 247 siswa SD dan SMP jatuh sakit.
Baca juga : Makan Bergizi Gratis Dimulai, Lampung Siapkan 1000 Dapur Desa
Langkah penghentian itu dikonfirmasi langsung oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Bandarlampung, Mulyadi Syukri.
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil sembari menunggu hasil uji laboratorium yang sedang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Untuk sementara waktu, distribusi dari penyedia tersebut kami hentikan.
“Kami menunggu kepastian hasil pengecekan dari BPOM,” ujar Mulyadi, dikutip pada Kamis, 4 September 2025.
Mulyadi menegaskan, meski pihaknya hanya sebagai penerima manfaat program, Disdikbud tetap berkomitmen untuk mengawasi pelaksanaannya.
Ia juga menyayangkan standar keamanan pangan yang seharusnya diterapkan oleh penyedia.
Baca juga : Pesawaran Luncurkan Program Makanan Bergizi Gratis untuk Siswa SD
“Seharusnya, makanan dicicipi terlebih dahulu oleh pihak penyedia sebelum didistribusikan untuk memastikan keamanannya.
“Namun, kita belum bisa menyimpulkan penyebabnya dari MBG sebelum ada hasil laboratorium resmi,” jelasnya.
Bakteri E. coli
Titik terang penyebab insiden ini mulai muncul setelah Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandar Lampung merilis temuan awal.
Tim Diskes menemukan adanya bakteri Escherichia coli (E.coli) pada sampel air bersih yang digunakan oleh dapur penyedia MBG di kawasan Tirtayasa.
Dapur inilah yang diketahui memasok makanan untuk SDN 2 Sukabumi dan SMPN 31 Bandarlampung, 2 sekolah dengan jumlah korban keracunan yang signifikan.
Baca juga : Baru 3 Hari, Program Makan Gratis di Tanggamus Sebabkan Belasan Siswa Mual dan Muntah
Kini, hasil uji sampel makanan oleh BPOM menjadi penentu.
“Hasil dari laboratorium nanti yang akan menjadi dasar kami untuk mengambil kebijakan lebih lanjut demi menjamin keamanan program MBG ke depannya,” pungkas Mulyadi.
Sebelumnya, insiden keracunan ini pertama kali dilaporkan pada Jumat, 29 Agustus 2025 lalu.
Ratusan siswa yang menjadi korban berasal dari beberapa sekolah di Kecamatan Sukabumi, antara lain SDN 2 Sukabumi, SMPN 31 Bandarlampung, dan sebuah sekolah dasar lainnya di wilayah Campang Raya.
Dari total 247 siswa yang mengalami gejala keracunan seperti mual dan pusing, sebanyak 12 di antaranya harus mendapatkan penanganan medis lebih intensif di rumah sakit dan puskesmas terdekat.
Baca juga : Dukung Program Presiden, Kapolri Bangun 20 Unit Dapur Gizi di Lampung





Lappung Media Network